Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

29 Soal (Essay) Wacana Bahasa Indonesia Beserta Jawaban

Kumpulan Soal (Esai/Uraian) Materi Wacana Bahasa Indonesia

1. Apa fungsi wacana?

2. Apa yang dimaksud wacana Forever?

3. Apakah puisi termasuk wacana?

4. Apakah kegiatan komunikasi secara lisan dapat dikatakan sebagai sebuah pembentukan wacana?

5. Mengapa kita perlu mempelajari kebahasaan wacana?

6. Apa peran analisis wacana dalam pengajaran bahasa?

7. Terangkan tentang wacana dialog!

8. Uraikan tentang wacana polilog!

9. Berdasarkan cara pemaparan, wacana dibedakan menjadi lima yaitu?

10. Jelaskan tentang wacana narasi!

11. Apa yang dimaksud dengan struktur wacana?

12. Tuliskan pengertian wacana!

13. Jelaskan tentang kohesi dan koherensi!

14. Jelaskan syarat-syarat pembangunan wacana yang baik!

15. Uraikan tentang kepaduan wacana!

16. Terangkan tentang kesatuan wacana!

17. Jelaskan tentang kelengkapan wacana!

18. Berdasarkan jenis dan bentuknya, wacana dapat dibedakan menjadi 5, yaitu?

19. Uraikan tentang wacana argumentasi!

20. Jelaskan tentang wacana persuasi!

21. Tuliskan ciri-ciri wacana lisan!

22. Terangkan tentang wacana tulis!

23. Tuliskan ciri-ciri wacana tulis!

24. Jelaskan tentang wacana deskripsi!

25. Terangkan tentang wacana eksposisi!

26. Tuliskan ciri-ciri wacana!

27. Uraikan tentang wacana lisan!

28. Berdasarkan cara pelibatnya, wacana dibedakan menjadi tiga yaitu?

29. Jelaskan tentang wacana monolog!

Kunci Jawaban:

1. Fungsi / manfaat wacana dalam bahasa
Fungsi bahasa tersebut dikelompokkan kepada 2 kategori utama yaitu fungsi transaksional dan fungsi interaksional. Brown dan Yule (1996: 1) menjelaskan fungsi transaksional bertujuan untuk menyampaikan informasi faktual atau proposisional.

2. Wacana forever sebenarnya kata yang sedikit terinspirasi dari film Black Panther, yang di dalam film itu ada slogan yang selalu diucapkan dengan semangat yaitu “WAKANDA FOREVER!!!” ... Singkatnya, wacana atau wacana forever itu semacam kalimat yang ingin jadi kenyataan tapi tidak jadi-jadi atau tidak terlaksanakan.

3. Wacana Puisi. merupakan contoh jenis wacana puisi lisan. Nafas bahasa yang digunakan dan isinya berorientasi pada kualitas estetika (keindahan). Lagu, tembang geguritan (Jawa), dan sejenisnya merupakan contoh-contoh wacana puisi.

4. Dalam peristiwa komunikasi secara lisan, dapat dilihat bahwa wacana sebagai proses komunikasi antar penyapa dan pesapa, sedangkan dalam komunikasi secara tulis, wacana terlihat sebagai hasil dari pengungkapan ide/gagasan penyapa. ... Komunikasi itu dapat menggunakan bahasa lisan, dan dapat pula memakai bahasa tulisan

5. Kajian wacana dapat mengungkap berbagai fakta, idealisme yang tersirat dalam sebuah wacana guna mengetahui maksud dan tujuan penulis wacana tersebut. ... Kajian ini akan membantu masyarakat dalam memahami lebih dalam berkaitan dengan dominasi kekuasaan yang ada dalam wacana

6. Di situlah letak peranan analisis wacana dalam pengajaran keterampilan menulis. Di dalam keterampilan berbicara, analisis wacana berperan dalam memberikan prinsip kooperatif dan prinsip maksim untuk terciptanya percakapan atau tutur kata yang jujur, relevan, jelas, dan cukup memberikan informasi.

7. Apabila peserta dalam komunikasi itu ada dua orang dan terjadi pergantian peran Contohnya antara dua orang yang sedang mengadakan perbincangan.

8. Apabila peserta dalam komunikasi lebih dari dua orang dan terjadi pergantian peran. Contohnya perbincangan antara beberapa orang dan mereka memiliki peran pembicara dan pendengar.

9. Wacana narasi, deskripsi, eksposisi, argumentatif, dan persuasi.

10. Istilah narasi (dalam bahasa inggris: naration) berarti kisahan. Penyusunan wacana narasi erat kaitannya dengan rangkaian peristiwa. Wacana ini berusaha menyampaikan serangkaian kejadian menurut urutan terjadinya, dengan maksud memberi arti kepada sebuah kejadian atau serentetan kejadian, dan agar pembaca dapat memetik hikmahnya dari cerita itu. Penataan gagasan dilakukan secara kronologis berdasarkan atas urutan waktu. Wacana narasi berisi fakta-fakta yang benar terjadi atau pula berupa khayalan. Wacana narasi yang berupa fakta misalnya otobiografi seorang tokoh terkenal dan sebaliknya wacana yang berbentuk novel, cerpen, roman, hikayat, drama, dan lain-lain digolongkan dalam wacana yang fiktif. Selain apa yang ada di atas terdapat beberapa bentuk lain yang termasuk narasi faktual, yaitu anekdot, laporan perjalanan, pengalaman seseorang.

11. Struktur wacana yang dimaksud ada tiga, yaitu awal/abstrak, tengah/orientasi, dan akhir/koda. Pada bagian awal/abstrak dalam struktur wacana merupakan bagian pembukaan yang berisi tentang sapaan dan pemaparan.

12. Wacana adalah salah satu bagian dari strata kebahasan yang menduduki posisi tertinggi. Berdasarkan pernyataan itu, dapat dikatakan bahwa wacana merupakan satuan bahasa terlengkap, yang dalam hirarki gramatikal merupakan satuan gramatikal tertinggi atau terbesar.

13. Kohesi adalah hubungan antarbagian dalam teks yang ditandai penggunaan unsur bahasa. Kohesi dalam wacana artinya terdapat keserasian hubungan unsur-unsur dalam wacana. Konsep kohesi pada dasarnya mengacu pada bentuk, artinya unsur-unsur wacana (kata atau kalimat) yang digunakan untuk menyusun suatu wacana memiliki ketertkaitan secara padu dan utuh.

14. Agar wacana menjadi baik, kita harus memperhatikan persyaratan dalam pembangunan wacana. Syarat tersebut adalah wacana tersebut harus kohesif dan koheren. Bila wacana tersebut kohesif dan koheren, akan terciptalah wacana yang memiliki kepaduan, kesatuan, kelengkapan.

15. Untuk mencapai kepaduan, langkah-langkah yang harus kita lakukan adalah kemampuan merangkai kalimat dan paragraf sehingga bertalian secara logis dan padu. Untuk mempertahankan kalimat dan paragraf agar tetap logis kita harus menggunakan kata hubung.

16. Selain kepaduan, persyaratan penulisan wacana yang baik adalah prinsip kesatuan. Yang dimaksud dengan prinsip kesatuan wacana adalah tiap paragraf-paragraf sebagai penyusun wacana memiliki keterkaitan yang dibahas. Keterkaitan tersebut dapat dilakukan, misalnya dengan menggunakan pola pengembangan khusus ke umum. Dengan pengembangan cara ini kita mampu menjeaskan sesuatu dengan secara umum terlebih dahulu.

17. Sebuah wacana dikatakan lengkap apabila di dalamnya terdapat paragraf-paragraf yang menjadi inti dari suatu pembahasan yang diangkat dalam wacana tersebut secara lengkap untuk menunjuk pokok pikiran. Ciri-ciri paragraf penjelas yaitu berisi penjelasan-penjelasan berupa rincian, keterangan, contoh dan lain-lain. Paragraf penjelas juga memerlukan kata penghubung, baik kata penghhubung antarkalimat maupun intrakalimat.

18.
1. wacana narasi
2. wacana deskripsi
3. wacana eksposisi
4. wacana argumentatif, dan
5. wacana persuasi.

19. Wacana argumentasi adalah wacana yang berusaha memberikan alasan untuk memperkuat atau menolak suatu pendapat, pendirian, atau gagasan. Wacana ini termasuk wacana yang paling sulit bila dibandingkan dengan wacana-wacana lain yang telah diuraikan terdahulu. Kesulitan tersebut muncul karena perlu adanya alasan dan bukti yang dapat menyakinkan, sehingga pembaca terpengaruh dan membenarkan gagasan, pendapat, sikap, dan keyakinannya. Penulis argumen harus berpikir kritis dan logis serta mau menerima pendapat orang lain sebagai bahan pertimbangan. Agar dapat mengajukan argumentasi, penulis argumentasi harus memiliki pengetahuan dan pandangan yang luas tentang apa yang dibicarakan itu. Kelogisan berpikir, keterbukaan sikap, dan keluasaan pandangan memiliki peranan yang besar untuk mempengaruhi orang lain. Ini semua merupakan persyaratan yang diperlukan untuk menyusun wacana argumentasi.

20. Pesuasi merupakan suatu cara yang dilakukan oleh orang untuk menyakinkan orang lain agar orang tersebut mau melakukan apa yang yang dikehendaki penulis baik masa sekarang atau masa yang akan datang. Dengan demikian, wacana persuasi adalah wacana yang disusun penulis dengan tujuan akhir agar pembaca mau melakukan sesuai dengan apa yang dikehendaki penulis dalam wacana tersebut. Untuk itu, wacana semacam ini erat kaitannya upaya penulis untuk mempengaruhi cara-cara pengambilan keputusan pembaca. Keberhasilan penulis menyusun wacana persuasi akan mengakibatkan keputusan-keputusan pembaca merupakan keputusan yang disasarkan atas kesadarannya sendiri, dilakukan secara bijak, dan benar.

21. Wacana lisan memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
1. Wacana lisan memerlukan daya simak yang tinggi agar interaksi tidak terputus.
2. Wacana lisan sulit diulang, dalam arti mengulang hal yang sama dengan ujaran pertama.
3. Wacana lisan dapat dilengkapi dengan gerakan anggota tubuh untuk memperjelas makna yang dimaksud.
4. Wacana lisan biasanya lebih pendek daripada wacana tulis.
5. Wacana lisan juga melibatkan unsur kebiasaan atau pengetahuan yang telah diketahui bersama

22. Menurut Henry Guntur Tarigan wacana tulis adalah wacana yang disampaikan secara tertulis, melalui media tulis. Sedangkan menurut Mulyana, wacana tulis adalah jenis wacana yang disampaikan melalui tulisan. Berbagai bentuk wacana sebenarnya dapat dipresentasikan atau direalisasikan melalui tulisan. Sampai saat ini, tulisan masih merupakan media yang sangat efektif dan efisian untuk menyampaikan berbagai gagasan, wawasan, ilmu pengetahuan, atau apapun yang dapat mewakili kreativitas manusia. Wacana dapat direalisasikan dalam bentuk kata, kalimat, paragraf atau karangan yang utuh (buku, novel, ensiklopedia, dan lain-lain) yang membawa amanat yang lengkap dan cukup jelas berorientasi pada jenis wacana tulis. Wacana tulis mulai dikenal setelah ditemukan huruf. Huruf dibuat untuk mengganti peran bunyi bahasa sehingga biasanya orang mengatakan bahwa huruf adalah lambang bunyi. Huruf – huruf itu dipelajari manusia dan kemudian digunakan untuk menyampaikan informasi kepada orang lain yang tinggal berjauhan.

23. Wacana tulis memiliki ciri –ciri sebagai berikut :
1. Wacana tulis biasanya panjang dan menggunakan bentuk bahasa yang baku
2. Wacana tulis dapat dilihat kembali tanpa ada perbedaan unit–unit kebahasaannya.
3. Wacana tulis biasanya mempunyai unsur kebahasan yang lengkap

24. Wacana deskripsi adalah wacana yang menggambarkan sesuatu sesuai dengan keadaan sebenarnya, sehingga pembaca dapat melihat, mendengar, mencium, dan merasakan apa yang dipahaminya itu sesuai dengan pikiran penulisnya. Wacana ini bermaksud menyampaikan kesan-kesan tentang sesuatu, dengan kesan utama sebagai pengikat semua kesan yang dilukisnya.
Wacana deskripsi ini ada dua macam, yaitu wacana deskripsi yang faktawi dan wacana deskripsi yang khayali. Wacana deskripsi yang pertama merupakan wacana yang berusaha menjelaskan bangun, ukuran, susunan, warna, bahan sesuatu menurut kenyataan, dengan tujuan untuk memberitahu/memberi informasi saja.
Wacana deskripsi yang kedua merupakan wacana deskripsi yang berusaha menjelaskan ciri-ciri fisik, cara-cara berlaku, sikap-sikap seseorang, keadaan suatu tempat menurut khayalan penulisnya. Hal ini bertujuan membangun alur cerita agar lebih mampu memberikan gambaran ke depan dan mampu menarik keingintahuan pembaca.

25. Wacana eksposisi adalah wacana yang berusaha menerangkan atau menjelaskan pokok pikiran yang dapat memperluas pengetahuan pembaca karangan itu. Wacana ini bertujuan menyampaikan fakta-fakta secara teratur, logis, dan saling bertautan dengan maksud untuk menjelaskan sesuatu ide, istilah, masalah, proses, unsur-unsur sesuatu, hubungan sebab-akibat, dan sebagainya. Hal ini dilakukan agar diketahui oleh pembaca.

26. Ciri-ciri Wacana adalah sebagai berikut :
1. Terdapat tema
2. Satuan terbesar, tertinggi, atau terlengkap
3. Memiliki hubungan kontinuitas, berkesinambungan
4. Memiliki hubungan koherensi
5. Memiliki hubungan kohesi
6. Medium bisa lisan maupun tulis
7. Sesuai dengan konteks

27. Menurut Henry Guntur Tarigan wacana lisan adalah wacana yang disampaikan secara lisan, melalui media lisan. Sedangkan, Menurut Mulyana wacana lisan adalah jenis wacana yang disampaikan secara lisan atau langsung dalam bahasa verbal. Jenis wacana ini sering disebut sebagai tuturan (speech) atau ujaran (utterance). Pada dasarnya bahasa lahir melalui mulut atau lisan. Oleh karena itu, wacana yang paling utama, primer, dan sebenarnya adalah wacana lisan. Jauh sebelum manusia mengenal huruf, bahasa telah digunakan oleh manusia. Bahasa lisan menjadi bahasa yang utama dalam hidup manusia karena lebih dahulu dikenal dan digunakan oleh manusia dari pada bahasa tulis.

28. Wacana monolog, wacana dialog, dan wacana polilog

29. Pada wacana monolog pendengar tidak memberikan tanggapan secara langsung atas ucapan pembicara. Contohnya pidato,ceramah.