Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

16 Soal (Essay) Pengajaran Apresiasi Sastra

Soal (Esai/Uraian) Mengenai Pengajaran Apresiasi Sastra

1. Rahmanto 1988: 16-25 mengungkapkan bahwa pembelajaran apresiasi sastra dapat membantu pendidikan secara utuh apabila cakupannya meliputi 4 manfaat, yaitu?

2. Tuliskan apresiasi sastra secara langsung !

3. Tuliskan apresiasi sastra secara tidak langsung !

4. Untuk mengapresiasi karya sastra yang berupa prosa fiksi (seperti cerpen dan novel), tindakan apresiatifnya ialah?

5. Untuk mengapresiasi karya puisi dapat berupa?

6. Untuk mengapresiasi karya sastra drama dapat berupa?

7. Adapun tujuan pembelajaran sastra dapat dilihat dari dua sisi, yaitu?
8. Untuk mengantisipasi kelemahan dalam pelaksanaan pembelajaran sastra dan bahasa pada umumnya diberikan rambu-rambu yang perlu diperhatikan guru. Rambu-rambu tersebut adalah sebagai berikut?

9. Bahan pembelajaran sastra harus sesuai dengan tingkat perkembangan kejiwaan siswa. Moody mengemukakan tahap perkembangan anak dalam menggeluti karya sastra sebagai berikut?

10. Menurut Moody (1971) pembelajaran apresiasi sastra mengikuti penahapan?

11. Beberapa hal yang berkaitan dengan sastra anak sebagai materi pembelajaran apresiasi sastra meliputi karakterstik sastra anak, nilai dan fungsi sastra. Jelaskan!

12. Tuliskan pengertian apresiasi sastra !

13. Jelskan tentang pembelajaran apresiasi sastra!

14. Klasifikasi kegiatan apresiasi sastra berdasarkan tujuan meliputi ?

15. Menurut Rahmanto, pemilihan bahan pengajaran sastra harus memperhatikan aspek-aspek antara lain?

16. Ada beberapa prinsip dalam pelaksanaan pembelajaran apresiasi sastra. Prinsip-prinsip tersebut adalah?

Jawaban:

1.
a. Membantu keterampilan berbahasa,
b. Meningkatkan pengetahuan budaya,
c. Mengembangkan cipta dan rasa, dan
d. Menunjang pembentukan watak

2. Apresiasi sastra secara langung adalah kegiatan membaca atau meinkmati cipta sastra berupa teks maupun perfomansi secara langsung. Kegiatan membaca suatu teks sastra secara langsung tiu dapat terwujud dalam perilaku membaca, emmahami, menikmati serta mengevaluasi teks sastra, baik yang berupa cerpen, novel, roman, naskah drama, maupun teks yang berupa puisi. Kegiatan langsung yang mewujud dalam kegiatan mengapresiasi sastra pada perfomansi, misalnya saat anda melihat, mengenal, memahami, menikmati, ataupun memberikan penilaian pada kegiatan membaca puisi, cerpen, pementasan drama, baik di radio, televisi, maupun pementasan di panggung terbuka. Keuda bentuk kegiatan itu dalam hal ini perlu dilaksanakan seara sungguh-sungguh, berulang kali, sehingga dapat melatih dan mengembangkan kepekaan pikiran dan perasaan dalam rangka mengapresiasi suatu cipta sastra, baik yang di paparkan lewat media tulisan, lisan, maupun visual.

3. Kegiatan apresiasi sastra , selain dilaksanakan secara langsung, juga dapat dilaksanakan secara tidak langsung. Kegiatan apresiasi sastra secara tidak langsung itu dapat ditempuh dengan cara mempelajari teori sastra, membaca artikel yang berhubungan dengan kesastraan, baik di majalah maupun koran, mempelajari buku-buku maupun esei yang membahas dan memberikan penilaian terhadap suatu karya sastra serta mempelajari seharah sastra. Kegiatan itu disebut sebagai kegiatan apresiasi secara tidak langsung karena kegiatan tersebut nilai akhirnya bukan hanya mengembangkan pengetahuan seseorang tentang sastra, melainkan juga akan meningkatkan kemampuan dalam rangka mengapresiasi suatu cipta sastra. Dengan demikian, kegiatan apresiasi sastra secara tidak langsung itu pada gilirannya akan ikut berperan dalam mengembangkan kemampuan apresiasi sastra jika bahan bacaan tentang sastra yang ditelaahnya itu memiliki relevansi dengan kegiatan apresiasi sastra.

4.
1. Memilih cerpen atau novel yang sesuai kehendaknya.
2. Membaca dan menyenangi novel sejenis, menyenangi tema atau pengarangnya, memahami pesan-pesannya, jalan ceritanya, serta mengenal tokoh-tokoh dan watak tokohnya, bahkan secara ekstrim ada yang berkeinginan mengindentifikasi diri menjadi tokoh yang digemari dalam karya prosa tersebut.
3. Membuat karya cerpen atau novel seperti itu. Setidak-tidaknya dapat memberikan komentar atau tanggapan tentang hal yang berhubungan dengan novel yang digemari.

5.
1. Memerhatikan pembacaan puisi,
2. Menyukai puisi-puisi tertentu
3. Berusaha memahami makna puisi yang disukai
4. Mengenal para penyair jenis puisi yang disukai
5. Berusaha dapat membaca puisi dengan baik
6. Membuat puisi sejenis serta menulis tanggapan atau ulasan mengenai puisi itu.

6.
1. Menyukai pementasan drama tertentu
2. Mengenal karakter tokohnya, para kru di belakangnya,
3. Melakonkan tokoh tertentu pada drama sejenis.

7. Dilihat secara umum dan kurikulum yang digunakan di sekolah. Secara umum, tujuan pembelajaran sastra adalah agar siswa:
(a) memperoleh pengalaman bersastra, dan
(b) memperoleh pengetahuan sastra.

8.
a. Pembelajaran sastra dimaksudkan untuk meningkatkan kemampuan peserta didik dalam mengapresiasi karya sastra. Kegiatan mengapresiasi karya sastra berkaitan erat dengan latihan mempertajam perasaan penalaran, dan daya khayal, serta kepekaan terhadap budaya masyarakat, dan lingkungan hidup.
b. Perbandingan bobot pembelajaran bahasa dan sastra harus seimbang dan dapat disajikan secara terpadu. Misalnya, wacana sastra dapat digunakan sekaligus sebagai bahan pembelajaran bahasa.
c. Bahan pembelajaran pemahaman adalah mendengarkan dan membaca berlingkup pada pengembangan kemampuan menyerap gagasan, pendapat, pengalaman, pesan, dan perasaan, serta mengapresiasikan karya sastra Indonesia, sastra daerah, dan sastra asing yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia baik dalam bentuk puisi, prosa, maupun drama, termasuk cerita rakyat.
d. Bahan pembelajaran penggunaan adalah berbicara dan menulis yang berlingkup pada pengembangan kemampuan pengungkapan gagasan, pendapat, dan perasaan.
e. Sumber belajar siswa dapat berupa buku-buku yang diwajibkan, media cetak, media elektronika, lingkungan, narasumber, pengalaman dan minat anak, serta hasil karya siswa.

9.
a. Tahap autistik (the austistic stage) usia 8-9 tahun. Pada tahap ini imajinasi anak belum mengarah kepada kehidupan nyata, tetapi masih pada tahap dunia fantasi.
b. Tahap romantis (the romantic stage) usia 10-12 tahun. Pada tahap ini siswa berada pada masa perkembangan menuju ke kesenangan pada dunia nyata, mengagumi tokoh hero atau pahlawan, menyenangi kisah-kisah kepahlawanan, pengembaraan hero, kisah-kisah petualangan menjelajahi dunia nyata.
c. Tahap realistis (the realistic stage) usia 13-16 tahun. Pada tahap ini anak mulai berpikir realistis. Pernyataan-pernyataan seperti Benarkah terjadi?, Bagaimana hal itu terjadi? Bagaimana ia melakukannya?, dan sebagainya merupakan pertanyaan-pertanyaan yang selalu timbul yang memperlihatkan bagaimana perkembangan ke arah kehidupan nyata mulai berkembang.
d. Tahap generalisasi (the generalizing stage) usia lebih dari 16 tahun. Pada tahap ini siswa tidak hanya berminat pada hal-hal yang detil tetapi juga sudah mengarah pada berpikir abstrak, menggeneralisasi fenomena-fenomena kehidupan yang dialaminya, menentukan moral, dan secara umum berpikir secara filosofis

10.
1) Pelacakan pendahuluan,
2) penentuan sikap praktis,
3) introduksi,
4) penyajian,
5) diskusi, dan
6) pengukuhan.

11.
a. Karakteristik sastra anak
Menurut Davis ada empat sifat sastra anak (Suwardi Endraswara, 2005: 212), yakni: (1) tradisional, yang tumbuh dari lapisan rakyat sejak zaman dahulu, bentuk mitologi, fabel, dongeng, legenda dan kisah kepahlawanan yang romantik, (2) realistis, yaitu sastra yang memuat nilai-nilai universal, dalam arti didasarkan pada hal-hal terbaik penulis zaman dulu dan kini, (3) popular, yaitu sastra yang berisi hiburan, yang menyenangkan anak-anak, dan (4) teoretis, yaitu yang dikomunikasikan kepada anak-anak dengan bimbingan orang dewasa serta penulisannya dikerjakan oleh orang dewasa pula.
Adapun ciri-ciri sastra anak antara lain menurut meliputi: (1) berisi sejumlah pantangan, berarti hanya hal-hal tertentu yang boleh diberikan, (2) penyajiannya secara langsung, kisah yang ditampilkan memberikan uraian secara langsung, tidak berkepanjangan, (3) memiliki fungsi terapan, yakni menerima pesan dan ajaran kepada anak-anak. Selain itu adalah fantastis, hal ini didasarkan pada perkembangan kejiwaan anak yang sarat dengan dunia fantasi.
Dari beberapa ciri sastra tersebut menunjukkan bahwa sastra anak yang dipelajari di sekolah turut andil dalam memberikan nilai positif yang sangat signifikan bagi perkembangan kepribadian siswa. Apalagi dilihat dari isi dan bentuknya sangat mudah dicerna dan dipahami oleh anak.
b. Nilai dan fungsi sastra
Untuk memenuhi kebutuhan kemanusiaan sastra anak sangat berperan dalam memberikan pengetahuan dan pendidikan. Ada beberapa tujuan penulisan sastra anak yaitu: (1) menghibur agar anak tertawa dan senang hatinya, (2) memberikan informasi kepada anak tentang fenomena alam semesta dan khayalan, (3) memberikan tuntunan tingkah laku dan perkembangan pola tingkah laku.

12. Kegiatan menggauli cipta sastra dengan sungguh-sungguh sehingga timbul pengertian, penghargaan, kepekaan pikiran kritis, dan kepekaan perasaan yang baik terhadap cipta sastra.

13. Pendidikan sastra melalui proses pembelajarannya merupakan pendidikan yang mencoba untuk mengembangkan kompetensi apresiasi sastra, kritik sastra dan proses kreatif sastra. Kompetensi apresiasi adalah kemampuan menikmati dan menghargai karya sastra. Dalam hal ini siswa diajak untuk lansung membaca, memahami, menganalisis, dan menikmati karya sastra secara langsung. Siswa tidak harus menghafal mulai dari nama-nama judul karya sastra atau sinopsisnya, tetapi langsung berhadapan dengan karya sastranya

14.
(a) Ketepatan apresiasi, yaitu menimbulkan kepekaan psikis, mendengarkan, membaca sendiri, membaca bersama, intpretasi auditif-musikal dan visual, memantaskan, mengundang pelaku seni, memahami serta melatih ketrampilan mempergunakan pengertian teknis.
(b) Kedalaman apresiasi, yaitu dalam hal ini guru berupaya agar siswa mengalami proses kegiatan intelektual, emosional, dan imajinatif yang seimbang dengan proses yang pernah dialami oleh pengarang (sastrawan) dalam menciptakan karyanya.
(c) Keluasan apresiasi; guru mendorong dan mengarahkan perhatian pada hubungan antara sastra dengan kehidupan dengan segala masalahnya.

15.
a. Bahasa, aspek kebahasaan dalam sastra yang perlu diperhatikan adalah cara penulisan yang dipakai pengarang, ciri-ciri karya sastra waktu penulisannya dan kelompok pembaca yang ingin dijangkau pengarang. Oleh karena itu, guru harus mengembangkan keterampilan untuk memilih bahan pengajaran sastra yang bahasanya disesuaikan dengan tingkat penguasaan bahasa siswa.
b. Kematangan jiwa (psikologi) yaitu dalam memilih bahan pengajaran sastra, tahap-tahap perkembangan psikologis harus diperhatikan karena tahap-tahap ini sangat berpengaruh terhadap minat dan keengganan siswa dalam pembelajaran sastra (1989: 27-33).

16.
(1) pembelajaran sastra berfungsi untuk meningkatkan kepekaan rasa pada budaya bangsa,
(2) pembelajaran sastra memberikan kepuasan batin dan pengayaan daya estetis melalui bahasa,
(3) pembelajaran apresiasi sastra bukan pelajaran sejarah, aliran, dan teori sastra, dan
(4) pembelajaran apresiasi sastra adalah pembelajaran untuk memahami nilai kemanusiaan di dalam karya yang dapat dikaitkan dengan nilai kemanusiaan di dalam dunia nyata.