Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Soal (Essay) Pengajaran Keterampilan Berbahasa Beserta Jawaban

Kumpulan Soal (Esai/Uraian) Materi Pengajaran Keterampilan Berbahasa

1. Tulislah teknik-teknik yang biasa digunakan dalam pembelajaran bahasa Indonesia!

2. Terangkan tentang pendekatan tujuan yang biasa digunakan dalam pembelajaran bahasa Indonesia!

3. Uraikan tentang pendekatan struktural yang biasa digunakan dalam pembelajaran bahasa Indonesia!

4. Jelaskan tentang pendekatan komunikatif yang biasa digunakan dalam pembelajaran bahasa Indonesia!

5. Tuliskan contoh teknik pembelajaran bahasa tentang kelas sebagai konteks sosial!

6. Tuliskan contoh teknik pembelajaran bahasa tentang simulasi dan bermain peran!

Kunci Jawaban:

1. Berikut ini adalah teknik-teknik yang biasa digunakan dalam pembelajaran bahasa Indonesia.
a. Teknik Pembelajaran Menyimak.
1) simak-ulang ucap,
2) simak-tulis (dikte),
3) simak-kerjakan,
4) simak-terka,
5) memperluas kalimat,
6) menyelesaikan cerita,
7) membuat rangkuman,
8) menemukan benda,
9) bisik berantai,
10) melanjutkan cerita,
11) parafrase,
12) kata kunci.
b. Teknik Pembelajaran Berbicara.
1) ulang-ucap,
2) lihat-ucapkan,
3) memerikan,
4) menjawab pertanyaan,
5) bertanya,
6) pertanyaan menggali,
7) melanjutkan,
8) menceritakan kembali,
9) percakapan,
10) parafrase,
11) reka cerita gambar,
12) bermain peran,
13) wawancara,
14) memperlihatkan dan bercerita.
c. Teknik Pembelajaran Membaca.
1) membaca survei,
2) membaca sekilas,
3) membaca dangkal,
4) membaca nyaring,
5) membaca dalam hati,
6) membaca kritis,
7) membaca teliti,
8) membaca pemahaman.
d. Teknik Pembelajaran Menulis.
1) menyalin kalimat,
2) membuat kalimat,
3) meniru model,
4) menulis cerita dengan gambar berseri,
5) menulis catatan harian,
6) menulis berdasarkan foto,
7) meringkas,
8) parafrase,
9) melengkapi kalimat,
10) menyusun kalimat,
11) mengembangkan kata kunci.

2. Pendekatan tujuan ini dilandasi oleh pemikiran bahwa dalam setiap kegiatan belajar-mengajar yang harus dipikirkan dan ditetapkan lebih dahulu ialah tujuan yang hendak dicapai. Dengan memperhatikan tujuan yang telah ditetapkan itu, maka dapat ditentukan metode mana yang akan digunakan dan teknik pengajaran yang bagaimana yang diterapkan agar tujuan pembelajaran tersebut dapat dicapai. Jadi, proses belajar-mengajar ditentukan oleh tujuan yang telah ditetapkan untuk mencapai tujuan itu sendiri.

3. Pendekatan struktural merupakan salah satu pendekatan dalam pembelajaran bahasa yang dilandasi oleh asumsi bahwa bahasa sebagai seperangkat kaidah, norma, dan aturan. Atas dasar anggapan tersebut, timbul pemikiran bahwa pembelajaran bahasa harus mengutamakan penguasaan kaidah-kaidah bahasa atau tata bahasa. Oleh sebab itu, pembelajaran bahasa perlu dititikberatkan pada pengetahuan tentang struktur bahasa yang terdiri atas: fonologi, morfologi, dan sintaksis. Dalam hal ini, pengetahuan tentang pola-pola kalimat, pola kata, dan suku kata menjadi sangat penting. Jelas bahwa aspek kognitif bahasa lebih diutamakan daripada aspek afektif dan aspek psikomotor

4. Pendekatan komunikatif merupakan pendekatan yang dilandasi oleh pemikiran bahwa kemampuan menggunakan bahasa dalam komunikasi merupakan tujuan yang harus dicapai dalam pembelajaran bahasa. Pendekatan komunikatif lahir dari banyaknya penggunaan komunikasi (bahasa). Komunikasi itu sendiri dapat diartikan proses interaksi yang terjadi secara dua arah antara penutur dan petutur. Tampak bahwa komunikasi melalui bahasa tidak hanya dipandang sebagai seperangkat kaidah tetapi lebih luas lagi, yakni sebagai sarana untuk berkomunikasi. Ini berarti bahasa ditempatkan sesuai dengan fungsinya, yaitu fungsi komunikatif.

5. Percakapan atau diskusi.

6.
1) Siswa diminta membayangkan dirinya ada di dalam suatu situasi yang dapat terjadi di luar kelas. Ini dapat saja berupa kejadian yang sederhana, misalnya bertemu seorang teman di jalan; tetapi dapat pula kejadian yang bersifat kompleks, seperti negosiasi di dalam bisnis.
2) Mereka (siswa) diminta memilih peran tertentu dalam suatu situasi. Dalam beberapa kasus, mungkin mereka berlaku sebagai dirinya sendiri; tetapi dalam kasus-kasus lain, mungkin mereka harus memperagakan sesuatu di dalam simulasi. Simulasi pun dapat dilakukan dalam berbagai bentuk.
3) Mereka diminta berbuat seperti situasi itu benar-benar terjadi sesuai dengan peran mereka masing-masing. Permainan peran ini tidak selalu dalam bentuk akting tetapi dapat juga dalam bentuk debat atau improvisasi.