Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Soal (Essay) Teori Belajar Bahasa Beserta Jawaban

Kumpulan Soal (Esai/Uraian) Materi Teori Belajar Bahasa

1. Ada lima prinsip pengajaran bahasa yang harus diketahui dan dipahami seorang pengajar atau guru dalam proses pembelajaran yang meliputi?

2. Contoh pembelajaran dalam aplikasi dari teori behavior antara lain?

3. Dalam proses pengaplikasian teori kognitivisme ada beberapa beberapa tahapan yang harus dilakukan oleh guru, yakni?

4. Dalam menerapkan teori kontruktivisme dalam belajar dapat digunakan model pembelajaran yang melibatkan beberapa tahap, yaitu?

5. Apa saja yang menjadi landasan teori belajar bahasa?

Kunci Jawaban:

1.
1. Mengetahui apa yang harus dilakukan untuk meningkatkan minat belajar bahasa. Seorang guru harus menyelami dan mengetahui karakter setiap siswa dalam satu kelas agar guru dapat mencari metode dan cara belajar yang tepat sesuai dengan apa yang diinginkan siswa.
2. Keterpaduan keterampilan berbahasa yang disajikan secara terpadu seperti dalam kehidupan nyata. Keterampilan ini seperti pemberian materi pelejaran yang pemberian contohnya disesuaikan dengan apa yang sedang berkembang dan menjadi sorotan anak didik. Keterpaduan ini selain menarik juga membuat siswa tidak bosan dalam mengikuti proses pembelajaran.
3. Belajar bahasa adalah belajar berkomunikasi. Komunikasi yang dibangun dan diterapkan oleh guru kepada anak didik hendaknya dimulai dari apa yang siswa atau anak didik minati. Dari itu pendidik dapat bertukar pikiran dengan baik dan selanjutnya komunikasi yang terjalin ini dapat mempermudah guru mengetahui kesukaran/kesulitan siswa dalam belajar.
4. Pentingnya kebermaknaan dalam pengajaran. Kebermaknaan berdasarkan konteks, baik konteks kebahasaan maupun konteks situasi. Kegiatan pembelajaran akan lebih bermakna bagi siswa jika hal itu berhubungan dengan kebutuhan, pengalaman, minat, tata nilai, dan masa depannya.Dalam penerapan prinsip ini, guru dituntut memiliki kemampuan berbahasa yang memadai dan memiliki berbagai keterampilan menyajikan bahan secara komunikatif
5. Belajar dengan melakukan atau memperaktekkan. Hal ini dilakukan agar seorang guru menyiapkan bahan, menciptakan situasi dan kegiatan yang beragam untuk mendorong siswa berperan secara aktif belajar bahasa, bukannya mengetahui teori-teori atau ilmu tentang bahasa. Pengaplikasian materi belajar dengan metode ini mengakibatkan siswa kan terdorong untuk selalu mengikuti serta berantusias dalam proses pembelajaran.
Dengan mengetahui dan menerapkan kelima prinsip pengajaran bahasa diatas, diharapkan seorang guru khusunya guru bahasa dapat membuat sistem dan proses pengajaran akan berjalan sesuai dengan tujuan dan kehendak yang sama yakni membuat suatu proses pengajaran yang efektif dan aktif sehingga proses pengajarn akan diterima oleh siswa dengan baik dan mudah dipahami.

2.
v Mengamati dan mengkaji respons yang diberikan siswa.
v Jika ada siswa yang bertanya guru harus bisa menjawab dan menjelaskannya hingga siswa bener-benar mengerti, dan bila ada siswa yang kurang mengerti atau kurang aktif guru perlu memberikan pertanyaan-pertanyaan untuk memaksa siswa aktif di kelas.
v Memberikan penguatan/ reinforcement (mungkin penguatan positif ataupun penguatan negatif), ataupun hukuman yang bersifat mendidik.
v Jika di dalam kelas atau di dalam pelajaran itu siswa ada yang kurang memperhatikan atau mengabaikan pelajaran guru, guru bisa memberikan hukuman agar siswa jera dan tidak berani mengulanginya lagi juga lebih memperhatikan guru saat guru mengajar.

3.
a. Guru hendaknya yakin bahwa setiap siswa memiliki perhatian terhadap apa yang dipelajari. Karena itu untuk menarik perhatian siswa, guru dapat melakukan tindakan dengan memberikan tanda tertentu misalnya tepuk tangan atau menghentakkan papan tulis, berkeliling ruangan atau berbicara dengan irama, memulai pelajaran dengan mengajukan pertanyaan yang membangkitkan minat siswa terhadap topik yang dibicarakan.
b. Membantu siswa membedakan informasi yang penting dengan informasi yang tidak penting untuk memusatkan perhatian misalnya dengan menuliskan tujuan pembelajaran, waktu menjelaskan berhenti sejenak dan mengulangi lagi atau meminta siswa mengulangi apa yang dijelaskan.
c. Membantu siswa menghubungkan informasi yang baru dengan apa yang diketahui misalnya dengan mengulangi hal-hal yang diketahui siswa untuk mengingat kembali dan menghubungkan dengan informasi baru, menggunakan diagram atau garis untuk menunnjukkan hubungan informasi baru dengan informasi yang dimiliki.
d. Sajikan pelajaran secara tersusun dan jelas misalnya menjelaskan tujuan pembelajaran, membuat ikhtisar atau rangkuman,
e. Utamakan pembelajaran bermakna bukan ingatan misalnya dengan mengajarkan perbendaharaan kata-kata baru dan mengaitkannya dengan kata-kata yang sudah dimiliki.

4.
a. Pengenalan
b. Pembelajaran kompetensi
c. Pemuliahan
d. Pendalaman
e. Pengayaan

5. Landasan teori belajar bahasa:
1) Teori Behavioristik
Bapak behavioristik yang terkenal di Amerika yaitu John B. Watson (1878 – 1958). Bahasa merupakan bagian fundamental dari keseluruhan perilaku manusia. Teori behavioristik memumpunkan perhatiannya pada aspek yang dirasakan secara langsung pada perilaku berbahasa serta hubungan antara stimulus dan respons pada dunia sekelilingnya. Seorang berhavioris menganggap bahwa perilaku berbahasa yang efektif merupakan hasil respon tertentu yang dikuatkan, respons itu akan menjadi kebiasaan; (contoh: Anak yang minta susu pada ibunya oleh ibu diberi susu) maka hal ini apabila selalu dituruti oleh ibu, sang anak akan minta susu dengan cara seperti itu terus. Pernyataan ini diteliti oleh Skinner yang dikenal dengan teorinya belajar disebut operant conditioning. Konsep ini mengacu pada kondisi di mana manusia/binatang mengirimkan respons /oprerant (ujaran/kalimat) tanpa ada stimulus yang tampak. Operant itu dipertahankan dengan penguatan.
Pendapat Skinner ditentang Ogzleh Noam Chomsky (1959), tetapi pada tahun 1970, Kenneth Mac Corquadale memberikan jawaban atas kritikan Chomsky. Beberapa linguis dan ahli psikologi sependapat dengan Skinner bahwa model Skinner tentang perilaku berbahasa dapat diterima secara memadai pada kapasitas memperoleh bahasa, perkembangan bahasa, hal bahasa, dan teori makna.
Ahli Psikologi mengusulkan modifikasi teori behaviorisme, contohnya terori modifikasi yang dikembangkan dari teori Pavlov, yakni teori kontiguitas.Misalnya pengertian makna, dipertanggungjawabkan dengan pernyataan bahwa rangsangan kebahasaan (kata/kalimat) memancing respons mediasi, yakni swastikulasi.
Charles Osgood menyebut swastimulasi sebuah proses mediasi representasional, yakni proses yang tidak tampak yang bergerak dalam diri pembelajar. Teori mediasi menjelaskan hakikat bahasa dengan makna berbau mentalisme. Dalam teori mediasi masih terdapat pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab, hakikat bahasa dan hubungan integral antara makna dan ujaran tak terpecahkan
Pendukung teori behaviorisme yang lain adalah Jenkins dan Palermo (1964). Mereka mensitesiskan linguistik generatif dengan pendekatan mediasi untuk bahasa anak.Anak memperoleh kerangka tata bahasa struktur frase dan belajar ekuivalensi stimulus respons yang dapat diganti dalam tiap kerangka.
Teorinya Jenkis dan Palermo mengalami kegagalan untuk menjelaskan hakikat bahasa yang abstrak.Pendapat ahli psikologi behaviorisme yang menekankan pada observasi empirik dan metode ilmiah hanya dapat mulai menjelaskan keajaiban pemerolehan dan belajar bahasa dan ranah kajian bahasa yang sangat luas masih tak tersentuh.
2) Teori Generatif
Teori Nativisme
Teori nativisme dihasilkan dari pernyataan bahwa pembelajaran bahasa ditentukan oleh bakat. Lenneberg (1967) menyatakan bahwa bahasa itu merupakan perilaku khusus manusia dan cara pemahaman tertentu, pengkategorian kemampuan,dan mekanisme bahasa yang lain ditentukan secara biologis. Teori Nativisme Chomsky dalam Hadley (1993: 48) yang merupakan tokoh utama golongan ini mengatakan bahwasannya hanya manusialah satu-satunya makhluk Tuhan yang dapat melakukan komunikasi lewat bahasa verbal. Chomsky juga menyatakan bahwa setiap anak yang lahir ke dunia telah memiliki bekal dengan apa yang disebutnya “alat penguasaan bahasa” atau LAD (Language Acquisition Device). McNeill mendeskripsikan LAD menjadi empat bakat bahasa. Kemampuan membedakan bunyi ujaran dengan bunyi yang lain dalam lingkungannya Kemampuan mengorganisasikan peristiwa bahasa ke dalam variasi yang beragam. Pengetahuan adanya sistem bahasa tertentu yang mungkin dan sistem yang lain yang tak mungkin. Kemampuan untuk tetap mengevaluasi sistem perkembangan bahasa yang membentuk sistem yang mungkin dengan cara yang paling sederhana dari data kebahasaan yang diperoleh. Tata bahasa anak mengacu pada tata bahasa tumpu (pivot grammar). Ujaran anak satu dua kata mula-mula merupakan perwujudan dua kelas kata terpisah dan bukan dua kata yang dilempar bersama. Kalimat – kata tumpu + kata terbuka.
Sumbangan teori nativisme:
Bebas dari keterbatasan dari metode ilmiah untuk menjelajah sesuatu yang tak tampak, tak dapat diobservasi, berada di bawah permukaan yang tersembunyi, struktur kebahasaan yang abstrak yang dikembangkan anak.
Deskripsi bahasa anak sebagai sistem yang sah, taat kaidah, dan konsisten. Bahasa anak pada tiap tahap itu sistematik, artinya anak secara berkelanjutan membentuk hipotesis dasar dengan masukan yang diterimanya dan menguji kebenarannya.Hipotesis tersebut terus direvisi, dibentuk lagi, atau kadang dipertahankan.
Konstruksi sejumlah kekayaan potensial dari tata bahasa universal.
Teori Kognitifisme
Slobin (1971) mengatakan bahwa dalam semua bahasa, belajar semantik bergantung pada perkembangan kognitif.Urutan perkembangan itu ditentukan oleh kompleksitas semantik daripada kompleksitas struktural.
Bloom (1976), penjelasan perkembangan bahasa bergantung pada penjelasan kognitif yang terselubung.Apa yang diketahui anak menentukan kode yang dipelajarinya untuk memahami pesan dan menyampaikannya.
3) Teori Konstruktivisme
Peneliti bahasa melihat bahasa merupakan manifestasi kemampuan kognitif dan efektif untuk dapat menjelajah dunia, untuk berhubungan dengan orang lain, dan untuk keperluan diri sendiri sebagai manusia.
Kognisi dan perkembangan bahasa. Pieget menggambarkan perkembangan sebagai hasil interaksi anak dengan lingkungannya, dengan interaksi komplementer antara perkembangan kognitif perseptual dengan pengalaman bahasa mereka.Penjelasan tentang perkembangan bahasa anak tergantung pada penjelasan faktor kognitif yang menjadi penyangga bahasa.Apa yang diketahui anak menentukan apa yang mereka pelajari tentang kode bahasa.
Slobin menyatakan bahwa semua bahasa belajar makna yang tergantung pada perkembangan kognitif dan urutan perkembangannya lebih ditentukan oleh kompleksitas makna itu daripada kompleksitas bentuknya. Interaksi sosial dan perkembangan bahasa disekitar pebelajar akan berpengaruh dalam perkembangan kognitif karena disesuaikan dengan jenjang uusia anak.
Bahasa pada hakikatnya digunakan untuk komunikasi interaktif.Dalam perspektif ini, jantung bahasa, fungsi pragmatik dan komunikatif dikaji. Seperti contohnya seorang anak dapat memahami apa yang disampaikan oleh lawan bicara jika si anak mengetahui dan dalam konteks social yang sama dengan pembicara maka masalah yang disampaikan akan jelas diterima oleh sang anak.
2) Berbicara
Yang dimaksud dengan berbicara ialah melahirkan pikiran dan perasaan yang teratur dengan memakai bahasa lisan.
Adapun tujuan pengajaran berbicara antara lain:
Melatih siswa melahirkan isi hatinya (pikiran, perasaan, dan kemauannya) secara lisan dengan bahasa yang teratur dan kalimat yang baik.
Memperbesar dorongan batin akan melahirkan isi hatinya.
Memupuk keberanian berbicara pada anak-anak.
Menambah perbendaharaan bahasa anak.
Dari sudut psikologi humanismenya adalah memberikan kesempatan pada anak untuk menyatakan dirinya.
3) Membaca
Membaca adalah mengarahkan siswa untuk dapat mengetahui sesuatu dengan cara langsung mencari/membaca sendiri dalam buku. Melatih siswa menangkap arti bacaan itu dalam waktu yang singkat.Melatih siswa belajar sendiri, untuk memperoleh pengetahuan (nilai praktis).
Membaca dengan teknik yang baik tidak hanya soal gerakan mata (soal lancar), tetapi meliputi pula tepatnya lagu, tekanan, dan lafalnya.
Dengan demikian, tujuan membaca teknik dapat kita simpulkan sebagai berikut:
Mengajarkan/melatih membaca dengan lancar dan jelas, dengan jalan:
membuat lompatan-lompatan mata yang besar.
mengurangi lompatan-lompatan balik.
memperhatikan isi bacaan sehingga proses asimilasi berlangsung dengan baik.
Mengajar membaca dengan tepat. (Ini juga dipengaruhi proses asimilasi).
Mengajar membaca dengan lagu yang tepat (seperti orang bercakap-cakap), tanda baca menunjukkan jalannya.
Mengajar membaca dengan ucapan yang tepat (lafal harus jelas).
Tujuan membaca:
Meningkatkan kecepatan pemahaman siswa
Memperbaiki kemampuan membaca oral /lisan
Meningkatkan kemampuan apresiasi sastra (menghargai, menggauli, dan menilai karya sastra)
Meningkatkan minat baca
4) Menulis
Menulis adalah kegiatan mengarahkan siswa agar dapat terampil dalam menyusun/memakai bahasa Indonesia dengan baik. Hal ini bertujuan agar siswa dapat aktif dalam mempelajari pemakaian bahasa Indonesia yang baik dan benar.
Tujuan pengajaran menulis
Siswa mampu menyusun karangan
Siswa mampu menggunakan kaidah bahasa
Siswa mampu berimajinasi