Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

20 Soal (Essay) Fonologi Bahasa Indonesia

Soal (Esai/Uraian) Mengenai Fonologi Bahasa Indonesia

1. Jelaskan yang kamu ketahui tentang Fonologi dalam cabang morfologi!
2. Tuliskan pengertian Fonologi dalam cabang sintaksis!
3. Uraikan tentang Fonologi dalam cabang semantik!
4. Bahasa Indonesia memakai ejaan fonemis, artinya:
5. Diafon (satu huruf yang melambangkan dua fonem) yakni:
6. Dalam bahasa Indonesia, secara resmi ada 32 buah fonem, yang terdiri atas:
7. Alat ucap dibagi menjadi dua macam yaitu?
8. Uraikan tentang Fona !
9. Tuliskan pengertian alofon!
10. Jelaskan yang kamu ketahui tentang vokal !
11. Uraikan tentang konsonan !
12. Jelaskan yang kamu ketahui tentang Fonetik artikulatoris!
13. Tuliskan pengertian fonetik akustik!
14. Uraikan tentang fonetik auditoris!
15. Tuliskan pengertian fonologi?
16. Untuk membuktikan apakah sebuah bunyi bahasa tergolong fonem atau fon, terlebih dahulu harus dicari pasangan minimalnya. Tuliskan Contoh pasangan minimal!
17. Jelaskan yang kamu ketahui tentang khasanah fonem!
18. Uraikan tentang fonetik!
19. Tuliskan pengertian fonemik!
20. Ada 3 (tiga) unsur penting ketika organ ucap manusia memproduksi bunyi atau fonem, yaitu?

Kunci Jawaban:

1. Bidang morfologi yang kosentrasinya pada tataran struktur internal kata sering memanfaatkan hasil studi fonologi, misalnya ketika menjelaskan morfem dasar {butuh} diucapkan secara bervariasi antara [butUh] dan [bUtUh] serta diucapkan [butuhkan] setelah mendapat proses morfologis dengan penambahan morfem sufiks {-kan}.

2. Bidang sintaksis yang berkosentrasi pada tataran kalimat, ketika berhadapan dengan kalimat kamu berdiri. (kalimat berita), kamu berdiri?(kalimat tanya), dan kamu berdiri! (kalimat perintah) ketiga kalimat tersebut masing-masing terdiri dari dua kata yang sama tetapi mempunyai maksud yang berbeda. Perbedaan tersebut dapat dijelaskan dengan memanfaatkan hasil analisis fonologis, yaitu tentang intonasi, jedah dan tekanan pada kalimat yang ternyata dapat membedakan maksud kalimat, terutama dalam bahasa Indonesia.

3. Bidang semantik yang berkosentrasi pada persoalan makna kata pun memanfaatkan hasil telaah fonologi. Misalnya dalam mengucapkan sebuah kata dapat divariasikan dan tidak. Contoh kata [tahu], [tau], [teras] dan [t∂ras] akan bermakna lain. Sedangkan kata duduk dan didik ketika diucapkan secara bervariasi [dudU?], [dUdU?], [didī?], [dīdī?] tidak membedakan makna. Hasil analisis fonologislah yang membantunya.

4. Setiap hunuf melambangkan satu fonem. Namun demikian masih terdapat fonem-fonem yang dilambangkan dengan diagraf (dua hunuf melambangkan satu fonem) seperti ny, ng, sy, dan kh.

5. Huruf e yang digunakan untuk menyatakan e pepet dan e taling.

6.
(a) fonem vokal 6 buah (a, i. u, e, ∂, dan o),
(b) fonem diftong 3 buah, dan
(c) fonem konsonan 23 buah (p, t, c, k, b, d, j, g, m, n, n, η, s, h, r, l,w, dan z).

7.
o Artikulator; adalah alat-alat yang dapat digerakkan/ digeser ketika bunyi diucapkan
o Titik Artikulasi; adalah titik atau daerah pada bagian alat ucap yang dapat disentuh atau didekati

8. Fona adalah bunyi ujaran yang bersifat netral atau masih belum terbukti membedakan arti

9. Variasi fonem karena pengaruh lingkungan yang dimasuki

10. Vokal adalah fonem yang dihasilkan dengan menggerakkan udara keluar tanpa rintangan. Dalam bahasa, khususnya bahasa Indonesia, terdapat huruf vokal. Huruf vokal merupakan huruf-huruf yang dapat berdiri tunggal dan menghasilkan bunyi sendiri. Huruf vokal terdiri atas: a, i, u, e, dan o. Huruf vokal sering pula disebut huruf hidup

11. Konsonan adalah fonem yang dihasilkan dengan menggerakkan udara keluar dengan rintangan. Dalam hal ini, yang dimaksud dengan rintangan adalah terhambatnya udara keluar oleh adanya gerakan atau perubahan posisi artikulator. Terdapat pula istilah huruf konsonan, yaitu huruf-huruf yang tidak dapat berdiri tunggal dan membutuhkan keberadaan huruf vokal untuk menghasilkan bunyi. Huruf konsonan tersebut terdiri atas: b, c, d, f, g, h, j, k, l, m, n, p, q, r, s, t, v, w, x, y, dan z. Huruf konsonan sering pula disebut sebagai huruf mati.

12. Fonetik artikulatoris disebut juga fonetik organis atau fonetik fisiologis, mempelajari bagaimana mekanisme alat-alat bicara manusia bekerja dalam menghasilkan bunyi bahasa serta bagaimana bunyi-bunyi itu diklasifikasikan. Pembahasannya antara lain meliputi masalah alat-alat ucap yang digunakan dalam memproduksi dalam bahasa itu, mekanisme arus udara yang digunakan dalam memproduksi bunyi bahasa, bagaimana bunyi bahasa itu dibuat, mengenai klasifikasi bahasa yang dihasilkan serta apa kriteria yang digunakan, mengenai silabel, dan juga mengenai unsur-unsur atau ciri-ciri supresegmental, seperti tekanan, jeda, durasi dan nada.

13. Fonetik akustik mempelajari bunyi bahasa sebagai peristiwa fisis atau fenomena alam. Objeknya adalah bunyi bahasa ketika merambat di udara, antara lain membicarakan: gelombang bunyi beserta frekuensi dan kecepatannya ketika merambat di udara, spektrum, tekanan, dan intensitas bunyi. Juga mengenai skala desibel, resonansi, akustik produksi bunyi, serta pengukuran akustik itu. Kajian fonetik akustik lebih mengarah kepada kajian fisika daripada kajian linguistik, meskipun linguistik memiliki kepentingan didalamnya.

14. Fonetik auditoris mempelajari bagaimana bunyi-bunyi bahasa itu diterima oleh telinga, sehingga bunyi-bunyi itu didengar dan dapat dipahami. Dalam hal ini tentunya pambahasan mengenai struktur dan fungsi alat dengar, yang disebut telinga itu bekerja. Bagaimana mekanisme penerimaan bunyi bahasa itu, sehingga bisa dipahami. Oleh karena itu, kajian fonetik auditoris lebih berkenaan dengan ilmu kedokteran, termasuk kajian neurologi.

15. Fonologi sesungguhnya merupakan satu sub disiplin linguistik yang membicarakan tentang bunyi-bunyi bahasa yang dihasilkan oleh alat ucap manusia dan teori-teori perubahan bunyi itu. Fonologi juga membicarakan runtunan bunyi-bunyi bahasa dan cara menganalisnya. Dengan demikian, kegiatan mempelajari bunyi bahasa idealnya tidak hanya sebatas upaya pengenalan bunyi-bunyi itu, tetapi juga harus diiringi dengan latihan menganalisis bunyi-bunyi bahasa tersebut dari segala segi.

16. Contoh pasangan minimal:
a. lupa dan rupa
b. fonemik dan fonetik
c. putra dan putri

17. Satuan bunyi ujaran terkecil yang membedakan arti.

18. Fonetik merupakan studi tentang bunyi-bunyi ujar. Maksudnya, fonetik yang merupakan cabang studi fonologi ini mempelajari bunyi bahasa tanpa menghiraukan apakah bunyi-bunyi tersebut berfungsi sebagai pembeda makna atau tidak. Dalam fonetik, bunyi bahasa dipelajari menurut perbedaan antara yang satu dengan yang lainnya. Objek kajiannya adalah “fon “ yakni bunyi bahasa pada umumnya.

19. Fonemik sebagai cabang studi fonologi mempelajari bunyi bahasa dengan memperhatikan fungsi bunyi tersebut sebagai pembeda makna. Objek kajiannya terbatas pada fonem/ bunyi bahasa yang berfungsi membedakan makna kata.

20.
a. udara - sebagai penghantar bunyi,
b. artikulator - bagian alat ucap yang bergerak, dan
c. titik artikulasi (disebut juga artikulator pasif) - bagian alat ucap yang menjadi titik sentuh artikulator.