Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

26 Soal (Essay) Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Indonesia

Soal (Esai/Uraian) Bab Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Indonesia

1. Jelaskan garis haluan dalam pelaksanaan dalam proses pembinaan dan pengembangan Bahasa Indonesia!
2. Jelaskan rancangan alternatif dan strategi dalam proses pembinaan dan pengembangan Bahasa Indonesia!
3. Jelaskan pengambilan keputusan dalam proses pembinaan dan pengembangan Bahasa Indonesia!
4. Jelaskan pengembangan sandi bahasa dalam pelaksanaannya!
5. Jelaskan pembinaan pemakaian bahasa dalam pelaksanaannya!
6. Jelaskan pembinaan masalah “pemasaran” dalam pelaksanaannya!
7. Upaya apa saja yang bisa dilakukan dalam pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia?
8. Permasalahan apa yang dihadapi dalam upaya pembinaan dan
pengembangan bahasa Indonesia.?
9. Solusi apa yang bisa dilakukan terhadap permasalahan yang dihadapi dalam pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia?
10. Jelaskan pengajaran bahasa Indonesia yang akan mengajarkan anak terampil dan mahir berbahasa Indonesia !
11. Tuliskan komponen- komponen yang mempengaruhi keberhasilan pembinaan bahasa Indonesia!
12. Tuliskan komponen sasaran pembinaan!
13. Jelaskan peran keluarga dalam pembinaan dan pengembangan Bahasa Indonesia!
14. Jelaskan peran sekolah dalam pembinaan dan pengembangan Bahasa Indonesia!
15. Jelaskan peran masyarakat dalam pembinaan dan pengembangan Bahasa Indonesia!
16. Tuliskan tugas pusat pembinaan dan pengembangan bahasa!
17. Tuliskan jenis-jenis sasaran perencanaan!
18. Tuliskan tujuan arah perencanaan sasaran jika dilihat dari jurusan khalayak sasaran!
19. Tuliskan pengertian pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia!
20. Jelaskan tentang tujuan sikap bahasa !
21. Sikap bahasa itu memiliki tiga komponen, yaitu komponen kognitif, afektif, dan perilaku. Jelaskan!
22. Uraikan tentang tujuan meningkatkan kegair4han!
23. Terangkan tentang tujuan meningkatkan keikutsertaan!
24. Tuliskan tentang tujuan meningkatkan mutu bahasa!
25. Tuliskan sasaran umum pembinaan bahasa Indonesia!
26. Jelaskan faktor-faktor yang berpengaruh dalam pembinaan Bahasa Indonesia!

Jawaban:

1. Sebelum garis halauan atau kebijakan ditentukan bagi taraf pelaksanaan, perlu dikenali sejumlah faktor lain di bidang politik, kemasyarakatan, ekonomi, dan pendidikan. Perencanaan bahasa beserta pelaksanaannya, yang diusahakan pada taraf nasional, memerlukan dukungan yang nyata dari pihak pemerintah dan dewan perwakilan rakyat. Perencanaan bahasa sepatutnya didasari pengenalan tata nilai yang direncanakan pengembangan dan pembinaannya, dan ganjaran yang dapat diberikan jika orang mau menerima hasil kodifikasi dan menggunakannya dalam hidupnya setiap hari.
Keadaan ekonomi dari sudut pandangan perbedaan tingkat kelas sosial, perbedaan kawasan yang mudah dan yang sukar dicapai oleh alat angkutan, serta perbedaan antara golongan penduduk yang mobil dan statis akan mempengaruhi kadar lajunya tahap pelaksanaan perencanaan bahasa. Taraf pendidikan dan tingkat keberaksaraan penduduk turut mempengaruhi corak perencanaan. Berdasarkan identifikasi masalah dan bertumpu pada analisis data sosiolinguistik kemudian dapat ditentukan garis halauan atau kebijakan yang akan dianut di bidang pengembangan atau pembinaan bahasa.

2. Setelah garis halauan ditetapkan, maka disusun berbagai rancangan alternatif yang lebih konkret dan yang memerinci sasaran dari jurusan bahasa yang khalayak yang hendak dicapai. Di samping komponen waktu, sumber daya, dan keuangan yang harus diperkirakan, dalam rancangan itu masih ada komponen lain yang amat penting, yakni strategi. Strategi itu menentukan urutan arus kegiatan yang menjamin atau sekurang-kurangnya dapat meramalkan, bahwa pada tahap pelaksanaan tujuan perencanaan akan tercapai. Strategi itu juga menentukan sarana dan saluran apa yang terbaik untuk menyebarkan hasil usaha perencanaan diantara khalayak sasaran. Setelah berbagai rancangan dan strategi itu siap disusun, barulah diambil putusan untuk memilih salah satu di antara alternatif yang ada.

3. Proses pengambilan keputusan akan ditinjau dari segi kewenangan dan dari sudut persyaratan putusan yang menyangkut penetapan norma kebahasaan. Hal pertama yang perlu dibicarakan ialah sumber kewenangan yang diperoleh badan perencana bahasa. Jika badan itu dibentuk berdasarkan undang-undang, maka dalam teori putusan yang diambil oleh badan itu mempunyai kekuatan pengikut secara pasti. Agar putusan yang menyangkut masalah bahasa itu menjaminkeberhasilan, Haugen (1996a) via Moeliono (1981: 26) menyarankan tiga kriteria, yakni keefisienan, keadekuatan, dan keberterimaan. Putusan itu efisien jika kaidah yang dihasilkan mudah dipellajari dan mudah dipakai. Putusan tersebut adekuat jika bentuk yang diatur oleh norma bahasa itu mampu menyampaikan inforasi yang diinginkan oleh pemakainya dengan ketepatan yang memadai. Putusan itu berterima jika bentuk yang dihasilkan dapat disetujui dan ditunjang oleh pemakainya oleh golongan pembina pendapat umum di dalam masyarakat.Ketiga kriteria itu tidak selalu dapat diterapkan sekaligus sebab, seperti kata Jurnudd da Das Grupta (1971), mungkin terjadi teori yang dari sudut linguistik sudah adekuat tidak dapat dilaksanakan karena ada perintang dalam segi keberterimaan di dalam masyarakat bahasa.

4. Jika pelaksanaan menyangkut pengembangan bahasa, maka kegiatannya ialah kodifikasi norma yang dinyatakan berlaku untuk tata ejaan, tata bahasa, kosa kata, dan norma berbagai ragam fungsional bahasa yang dipamerkan sehingga sandi bahasa itu dapat memenuhi syarat kepadanan yang dituntut oleh berbagai jenis wacana. Bentuk kodifikasi itu berupa pernyataan eksplisit tentang norma.

Proses kodifikasi di bidang pengembangan sandi bahasa dan pemekaran ragam fungsional itu berupa pedoman ejaan, buku tata bahasa, pedoman pembentukan istilah, berbagai jenis kamus, seperti: kamus umum, kamus baku, kamus sinonim dan antonim, kamus geografi, kamus istilah, pedoman surat-menyurat, dan berbagai buku pedoman ragam wacana yang berhubungan dengan dunia ilmu, jurnalistik, kesusastraan, dan sebagainya.

5. Jika pelaksanaan itu berkenaan dengan pembinaan bahasa, maka kegiatannya ialah penyebaran hasil kodifikasi itu di kalangan khalayak sasaran, berbagai usaha penyuluhan dan pembimbingan dalam pemakaian bahasa yang baik dan benar.

6. Soal yang sangat penting pada tahap implementasi ini adalah pemasaran hasil kodifikasi dan elaborasi itu. Alisjahbana (1962, 1971a) via Moeliono (1985: 28) menekankan batapa pentingnya sistem persekolahan bagi penyebaran bahasa baku dan tentu juga penyebaran bahasa kebangsaan di dalam masyarakat yang aneka bahasa sifatnya.

Akhir-akhir ini dapat dikatakan bahwa negeri yang sedang membangun, media massa lisan telah mengambil alih bagian besar peranan sekolah penyalur utama hasil pengembangan dan pembinaan bahasa. Peranan media massa menjadi lebih jelas lagi jika teori pembakuan bahasa Ray (1963) dikemukakan di sini sebagai ilustrasi.

7. Upaya dalam pembinaa bahasa antara lain, melalui pengajaran, pemasyarakatan, peran media massa, dan jalur kepemimpinan. Pengembangan bahasa dilakukan melalui pengembangan kosakata/istilah, perluasan pemekaian bahasa, pembinaan kepada masyarakat, penelitian bahasa, dan pengembangan melalui media massa.

8. Permasalahan yang dihadapi dalam pembinaan bahasa adalah Persoalan mendasar adalah masih rendahnya sikap positif berbahasa Indonesia di masyarakat penutur bahasa Indonesia. Kompetensi berbahasa Indonesia dianggap tidak penting dikuasai, sebaliknya penguasaan bahasa asing sangat didambakan. Sikap meremehkan bahasa Indonesia ini berakibat pada tidak dipelajarinya segala aturan kebahasaan Indonesia. Walhasil, bahasa Indonesia yang yang digunakan cendrung salah. Awak media massa belum sepenuhnya menyugukan bahasa Indonesia yang diharapkan. Penggunaan kalimat yang tidak efektif, diksi yang tidak tepat, atau pengggunaan kata/istilah bahasa Indonesia yang tidak konsisten banyak dtemukan di beragam media. Pejabat pun masih banya yang belum konsisten menggunakan bahasa Indonesia.
Permasalahan yang dihadapi dalam mengembangkan bahasa Indonesia adalah masih banyak kosakata atau istilah. Mungkin juga kata-kata atau istilah-istilah tersebut sudah diindonesiakan, tetapi kata atau pun istilah Indonesia-nya kalah populer dengan bentuk asingnya. Sosialisasi pembinaan dan pembinaan bahasa masih minim. Belum dipahaminya pedoman pembentukan kata dan istilah dengan benar dapat memunculkan kata atau istilah baru yang salah. Sikap positif berbahasa pun belum tertanam pada masyarakata Indonesia.
Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa mengemukakan delapan permasalahan dalam upaya pembinaan dan pengembangan bahasa yaitu: rendahnya kemahiran membaca (reading skill) dalam pengukuran PISAOECD tahun 2012,rendahnya nilai UN bahasa Indonesia, rendahnya jumlah penutur muda bahasa daerah, belum meratanya dukungan bahasa daerah ke dalam lema bahasaIndonesia,belum terstandarnya kemahiran berbahasa indonesia pendidik dantenaga kependidikan,terbatasnya akses masyarakat terhadap layanan kebahasaan,terbatasnya keterlibatan publik dalam penanganan kebahasaan,belum memadainya sarana dan prasarana layanan kebahasaan didaerah.

9. Untuk meningkatkan kembali eksistensi bahasa Indonesia strategi yang ditempuh untuk meningkatkan pembinaan bahasa Indonesia maka strategi yang kiranya dapat ditempuh adalah 
(1) menyadarkan diri pemakai bahasa akan pentingnya memiliki sikap positif berbahasa Indonesia, 
(2) peningkatan penggunaan bahasa dengan baik dan benar di kalangan pejabat dan awak media massa,
(3) menghilangkan rasa “malu” dan “enggan” dalam mempergunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, 
(4) pembatasan penggunaan bahasa Inggris, bahasa daerah, ataupun bahasa gaul dalam berkomunikasi formal, 
(5) penanaman pemahaman terhadap bahasa Indonesia yang baik dan benar, 
(6) menjadikan lembaga pendidikan sebagai basis pembinaan bahasa, 
(7) peningkatan mutu sumber daya para pakar, dan 
(8) kegiatan penyuluhan bahasa di luar bulan bahasa dan sastra.
Solusi terhadap problematik pengembangan bahasa Indonesia adalah memperkuat ekosistem pendidikan, Pengembangan yang seimbang dan harmoni antara bahasa nasional danbahasa daerah, dan Penguatan karakter dan jati diri bangsa.

10. Pengajaran bahasa Indonesia yang akan mengajarkan anak terampil dan mahir berbahasa Indonesia harus diartikan sebagai berikut:
1. Mengenalkan ciri-ciri berbagai bahasa Indonesia dan membangkitkan Bahasa Indonesia baku maupun non baku.
2. Mengenalkan ciri-ciri fungsi berbagai variasi bahasa Indonesia sehingga pengajaran bahasa Indonesia lebih relevan untuk anak didik
3. Mengajar menggunakan bahasa Indonesia yang tepat untuk fungsi yang tepat.

11. Komponen- komponen yang mempengaruhi keberhasilan pembinaan bahasa Indonesia adalah sbb:
1. Masyarakat Indonesia yang akan dibina.
2. Proses pembinaan.
3. Hasil pembinaan
4. Perangkat alat pembinaan.
5. Keadaan masyarakat.

12. Komponen sasaran pembinaan adalah:
1. Murid mampu mengungkapkan pikiran\pendapat dengan berbahasa Indonesia yang baik dan benar.
2. Murid mampu menggunakan bahasa Indonesia sesuai dengan kaidahnya.
3. Murid bangga berbahasa Inonesia di lingkungan rumah maupun sekolah.
4. Guru dan murid saling membudayakan berbahasa Indonesia yang baik dan benar.

13. Keluarga subjek didik dikatakan untuk menunjang karena pada keluarga itu selalu mendorong subjek didik untuk belajar lebih giat. Setidaknya anggota keluarga menjadi cerminan bagi subjek didik untuk menggunakan bahasa indonesia dengan baik dan benar. Disamping itu, hendaknya diciptakan kondisi sedemikian rupa, sehingga untuk belajar dan menggunakan bahasa indonesia dengan baik dan benar. Misalnya, di dalam anggota keluarga disediakan majalah atau koran yang tergolong baik bahasa indonesianya.

14. Sekolah hendaknya menciptaka kondisi yang dapat menunjang pengajaran bahasa indonesia misalnya, mengadakan penerbitan majalah, baik majalah tulis maupun majalah dinding, guru menggunakan bahasa yang benar sewaktu memberikan bimbingan kepada murid- muridnya, mengadakan latihan diskusi, pidato, baca puisi, dan drama

15. Masyarakat, tempat murid bergaul diluar keluarga dan sekolah pun harus menunjang suksesnya pengajaran bahasa indonesia. Terutama dalam pembinaan dilingkungan masyarkat yang tidak saja berfungsi sebagai komunikasi tetapi yang lebih penting lagi adalah bahasa Indonesia sebagai alat pemersatu bangsa. Sasaran utama yang harus dilakukan adalah terlebih pembinaan lingkungan keluarga, sekolah dan masyarkat pada umumnya.

16. Tugas Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, yaitu dapat dirumuskan sebagai berikut.
1. Penelitian di bidang bahasa dan susastra mengenai bahasa bahasa Indonesia dan bahasa Nusantara, termasuk perkamusan dan peristilahannya.
2. Pengendalian kegiatan pembinaan dan pengembangan bahasa dan susastra.
3. Penelitian di bidang pengajaran bahasa dan susastra mengenai bahasa Indonesia, bahasa daerah Nusantara, dan bahasa Asing yang diajarkan di Indonesia.
4. Penelaahan hasil kegiatan pembinaan dan pengembangan bahasa dan susastra

17. Jenis-jenis sasaran perencanaan jika dipandang dari jurusan bahasa.
1. Perencanaan pengembangan sandi bahasa di bidang pengaksaraan dan ejaan, di bidang peristilahan, dan di bidang pemekaran ragam wacana.
2. Perencanaan pembinaan pemakaian bahasa di bidang penyuluhan dan pengajaran bahasa.
3. Perencanaan pembangkitan bahasa.

18. Jika dilihat dari jurusan khalayak sasaran,tujuan arah perencanaan sasaran yaitu.
1. Kepada golongan penutur asli atau yang bukan penutur asli
2. Kepada orang yang masih bersekolah atau kepada orang dewasa
3. Kepada kaum guru di berbagai tingkat prasekolahan
4. Kepada kalangan komunikasi media massa seperti majalah, penyiar, dan pewara (berita)
5. Kepada khalayak di bidang industri, perniagaan, penerbitan, dan perpustakaan
6. Kepada lingkungan sastrawan

19. Hasil perumusan bahasa Seminar Politik Bahasa Nasional (1975) telah disebutkan bahwa pembinaan dan pengembangan bahasa adalah usaha dan kegiatan yang ditujukan untuk memelihara dan mengembangkan bahasa Indonesia, bahasa daerah, dan pengajaran bahasa asing supaya dapat memenuhi fungsi dan kedudukannya.
Pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia dilakukan meliputi usaha-usaha pembakuan agar tercapai pemakaian bahasa yang cermat, tetap dan efesien dalam komunikasi. Untuk kepentingan praktis, telah diambil sikap bahwa pembinaan terutama ditujukan kepada penuturnya, yaitu masyarakat pemakai bahasa Indonesia, dan pengembangan bahasa dalam segala aspeknya.
Usaha pembinaan bahasa berkenaan dengan pelaksanaan kegiatan penyebaran bahasa Indonesia ke khalayak sasaran dengan berbagai cara seperti usaha penyuluhan, penataran, dan pendemonstrasian. Jika dipandang dari segi khalayak sebagai sasaran pembinaan tersebut, khalayak tersebut dapat terdiri atas berbagai golongan, baik golongan penutur asli, maupun golongan bukan penutur asli, orang yang masih bersekolah, ataupun orang yang sudah tidak bersekolah lagi, khalayak guru pada semua jenis dan semua jenjang pendidikan, khalayak orang yang berada di komunikasi media massa, seperti majalah, surat kabar, radio, dan televisi, serta khalayak di bidang industri, perniagaan, penerbit, perpustakaan, dan pada lingkungan sastrawan.

20. Sikap bahasa adalah salah satu sikap dari berbagai sikap yang mungkin ada. Sikap adalah kesiapan beraksi. Sikap adalah kesiapan mental dan saraf yang terbentuk melalui pengalaman yang memberikan arah kepada reaksi seseorang terhadap semua objek dan keadaan yang menyangkut sikap itu

21.
1. Komponen kognitif adalah pengetahuan kita tentang bahasa secara keseluruhan sampai dengan penggolongan serta hubungan-hubungan bahasa tersebut sebagai bahasa Indonesia, bahasa asing, atau bahasa daerah.
2. Komponen afektif menyangkut perasaan atau emosi yang mewarnai atau menjiwai pengetahuan yang terdapat di dalam komponen kognitif. Komponen afektif menyangkut nilai rasa, baik atau tidak baik, suka atau tidak suka. Target yang hendak dicapai dalam kegiatan “pembinaan” bahasa yang amat penting adalah menumbuhkan sikap yang positif terhadap bahasa Indonesia. Sikap positif tersebut tidak dapat diukur dengan angka-angka, tetapi dapat dilihat dalam komponen perilaku.
3. Komponen perilaku terdapat nilai moral yang muncul dan berhubungan erat dengan kecenderungan berbuat atau beraksi dengan cara tertentu.

22. Kegiatan pembinaan juga mempunyai target dalam meningkatkan kegairahan berbahasa Indonesia. Target ini dapat diukur dengan pertanyaan, seberapa banyak seseorang itu secara konsisten bergairah memakai bahasa Indonesia? Jika seseorang telah bergairah memakai bahasa Indonesia dalam berkomunikaasi dengan orang lain, orang itu harus meningkatkan lagi kegairahannya itu dalam mempergunakan bahasa Indonesia.
Contoh: Dalam suatu rapat resmi seorang pejabat menyampaikan pidatonya sebagai sambutan resmi sebagai berikut:\
Saudara-saudara,
Seperti hal yang saya sampaikan tadi bahwa untuk mendrop beberapa spare part yang kita pesan dari luar negeri di airport sore ini, saya menganjurkan dan meminta agar tenaga-tenaga yang telah di-upgradinglah yang harus berangkat ke sana. Jika policy ini disalahgunakan, saya akan melakukan feedback terhadap tindakan itu. Perlu juga saudara ketahui bahwa apa yang saya katakan terakhir itu bersifat off the record.
Kutipan pidato di atas, memperlihatkan bahwa pejabat yang berbicara itu tidak bergairah memakai bahasa Indonesia. Pejabat tersebut harus dibina pemakaian bahasanya sehingga dia tidak menggunakan kata-kata asing yang sudah ada padanannya dalam bahasa Indonesia. Jika Anda berhasil meyakinkan pejabat itu bahwa semua kata asing tersebut sudah ada padanannya dalam bahasa Indonesia, berarti Anda telah berhasil melakukan pembinaan bahasa dengan baik. Dengan jelas sekali Anda melihat beberapa kata asing dipakai dalam teks. Kata-kata yang dimaksudkan adalah mendrop, spare part, air port, upgrading, policy, feedback, off the record. Bukankah kata-kata tersebut sudah ada padanannya dalam bahasa Indonesia? Kata mendrop sama dengan menurunkan, mengantarkan; kata spare part berpadanan dengan kata suku cadang; kata air port berpadanan dengan kata bandar udara; kata upgrading berpadanan dengan kata penataran; kata policy berpadanan dengan kata kebijaksanaan; kata feedback berpadanan dengan kata umpan balik; dan kata off the record berpadanan dengan kata cegah siar.

23. Kegiatan pembinaan harus pula terlihat dalam kegiatan meningkatkan keikutsertaan khalayak sasaran di dalam menjaga mutu bahasa Indonesia. Apa yang disebut dengan “mutu” bahasa itu harus dihubungkan dengan bermacam-macam persoalan, seperti persoalan hubungan kata tabu, persoalan kependengaran yang tidak menyinggung perasaan, dan ketidaklaziman yang agak mencolok. Kalau Anda telah menyangsikan suatu bentuk bahasa, baik kata dan frase, maupun kalimat berarti Anda telah ikut serta menjaga mutu bahasa. Jika Anda bertanya, “Apakah bentuk frase mengejar ketinggalan sudah benar dalam bahasa Indonesia,” maka Anda sudah membina bahasa, Anda sudah melibatkan diri dalam kegiatan pembinaan bahasa. Dengan demikian, target mudah diukur, seberapa jauh orang bertanya tentang kebenaran kata, frase, dan kalimat. Jadi, jika orang telah meragukan tentang bentuk-bentuk bahasa dan ingin tahu bentuk yang benar dari suatu untaian kata, frase, atau kalimat berarti sudah terbina bahasanya dengan baik.

24. Dalam hal ini berhubungan erat dengan menjaga mutu bahasa para pendukung bahasa. Mutu bahasa yang dimaksudkan itu berhubungan erat dengan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Dalam menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar adalah persoalan kepantasan penempatan suatu unsur bahasa dan persoalan ketepatan kaidah yang diterapkan pada kata, frase, dan kalimat.

25. Bahasa Indonesia digunakan sebagai sarana dalam kegiatan manusia, seperti bidang kebudayaan, ilmu dan teknologi. Kebudayaan, ilmu dan teknologi berkembang sejalan dengan perkembangan zaman. Perkembangan kebudayaan, ilmu, dan teknologi itu membuat bahasa juga ikut berkembang. Selain itu, luas wilayah pemakaian bahasa Indonesia yang tersebar di pulau pula yang secara geografis terpisahkan oleh laut memungkinkan terjadinya perubahan-perubahan di tiap-tiap daerah. Oleh karena itu, perlu diadakan upaya pembinaan dan pengembangan bahasa yang berkesinambungan. Di dalam hasil rumusan Seminar Politik Bahasa Nasional (1975) disebutkan bahwa yang dimaksud pembinaan adalah upaya untuk meningkatkan mutu pemakaian bahasa. Usaha-usaha pembinaan ini mencakup upaya peningkatan sikap, pengetahuan, dan keterampilan berbahasa. Usaha pembinaan yang dilakukan, antara lain, melalui pengajaran dan pemasyarakatan. Sedangkan, yang dimaksud dengan pengembangan adalah upaya meningkatkan mutu bahasa agar keperluan masyarakat terpenuhi

26. Faktor-faktor yang berpengaruh dalam pembinaan Bahasa Indonesia adalah tujuan, siswa, lingkungan yang meliputi lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat dan Sarana kurikulum, guru, metode, alat pengajaran dan evaluasi. Tujuan maksudnya adalah tujuan pengajaran harus mencakup tiga asfek yaitu : pemahaman, keterampilan dan sikap. Secara operasional rumusan tujuan harus dapat dievaluasi sehingga dapat diketahui tujuan berhasil atau tidak. Murid adalah murid sebagai subjek didik harus diperhatikan, karena bagi murid yang baru pandai berbahasa Indonesia akan mempengaruhi stategi pembelajaran di kelas. Bagi murid yang sudah mahir berbahasa Indonesia maka guru akan lebih mudah dalam menyampaikan materi ajar dan cepat dapat dipahami murid. Lingkungan maksudnya lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat sangat mempengaruhi.