Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

19 Soal (Essay) Analisis Kesalahan Berbahasa Beserta Jawaban

Kumpulan Soal (Esai/Uraian) Materi Analisis Kesalahan Berbahasa

1. Terangkan kesalahan global!

2. Tuliskan teknik analisis kesalahan berbahasa!

3. Jelaskan mengenai implikasi pedagonis analisis kesalahan!

4. Uraikan tentang dukungan terhadap analisis kesalahan!

5. Terangkan prosedur analisis kesalahan!

6. Uraikan tentang format analisis kesalahan!

7. Tuliskan kesulitan menerapkan analsisis kesalahan!

8. Uraikan tentang kesalahan perorangan!

9. Terangkan perihal kesalahan kelompok!

10. Tuliskan kesalahan menganalogi!

11. Apa yang dimaksud dengan kesalahan transfer!

12. Jelaskan mengenai kesalahan guru!

13. Uraikan tentang kesalahan lokal!

14. Jelaskan mengenai kesalahan acuan!

15. Uraikan tentang kesalahan register!

16. Terangkan perihal kesalahan sosial!

17. Tuliskan kesalahan tekstual!

18. Apa yang dimaksud dengan kesalahan penerimaan!

19. Jelaskan mengenai kesalahan pengungkapan!

Jawaban:

1. Kesalahan global, ‘global errors’ adalah kesalahan karena efek makna seluruh kalimat (Norrish, 1983:127). Kesalahan jenis ini menyebabkan pendengar atau pembaca salah mengerti suatu pesan atau menganggap bahwa suatu kalimat tidak dapat dimengerti. Valdman (1975) yang dikutip Ruru dan Ruru (1985:2) mengadakan modifikasi terhadap batasan yang dikemukakan diatas. Valdman mendefinisikan kesalahan global sebagai kesalahan komunikatif yang menyebabkan seorang penutur yang mahir dalam suatu bahasa asing, salah tafsir terhadap pesan lisan atau yang tertulis.

2. Norrish (1983: 80-81) mengemukakan dua mekanisme menganalisis kesalahan. Mekanisme yang diusulkan yakni membuat kategori kesalahan dan mengelompokan jenis kesalahan itu berdasarkan daerahnya

3. Brown (1980: 184) mengemukakan, ada tiga cara memperbaiki kesalahan si terdidik:
1. Mengoreksi kesalahan di kelas
2. Menjelaskan bentuk gramatikal yang benar
3. Memolakan bahan yang dikaitkan dengan kurikulum.

4. Agar analisis kesalahan dapat diterapkan kita harus membentengi diri dengan pengetahuan fonologi, morfologi, sintaksis dan semantik, dan pengetahuan bahasa yang diperlukan.
Penguasaan ini tercapai apabila kita rajin membaca kamus, mempelajari kaidah bahasa melalui buku tata bahasa, melatih kemamapuan berbahasa, baik membaca, berbicara, mendengarkan, maupun menulis.

5. Corder (Allen dan Corder, Ed. 1974: 126) mengemukakan tiga taap menganalisis kesalahan, yakni:
1. Pengenalan
2. Pemerian deskripsi
3. Penjelasan
Ketiga langkah ini berhubungan satu sama lain. Perlu diingat bahwa untuk menganalisis kesalahan, datanya harus ada. Data dapat berupa hasil simakan, proses membaca, percakapan dan tulisan si terdidik.

6. Format analisis kesalhaan berguna untuk melengkapi penilaian. Seperti telah dikatakan, analisis kesalahan adalah bagian linguistik terapan yang ingin menemukan penyimpangan-penyimpangan berbahasa dengan jalan mengidentifikasi, mengkategorikan dan menentukan daerah, jenis dan sifat kesalahan, baik untuk perorangan, kelompok atau klasikal. Telah dijelaskan pula bahwa daerah kesalahan meliputi bidang fonologi, morfologi, sintaksis dan semantik, sedangkan yang berhubungan dengan kemampuan berbahasa menyangkut menyimak, berbicara, membaca dan menulis. Untuk itu format analisis kesalahan dapat dibuat berdasarkan daerah kesalahan.

7. Banyak kesulitan yang akan dialami, apabila kita akan menganalisis kesalahan. Kesulitan itu terutama berpangkal dari penganalisis, yakni kemampuan mennetukan bentuk yang benar dan salah.
Untuk kesulitan yang berpangkal pada pihak penganailsis perlu diusahakan:
1. Kompetensi dan keterampilan guru untuk menentukan bentuk yang benar dan salah dalam waktu yang relatif singkat.
2. Guru harus melatih terus-menerus menganalisis kesalahan, baik dari surat kabar, majalah atau tulisan siswa.
3. Guru harus mengikuti perkembangan kebahasaan, baik melalui media elektronik maupun non elektronik.
4. Guru harus rajin membaca buku-buku tata bahasa dan kamus serta buku-buku lainnya.
5. Guru harus rajin menghadiri pertemuan ilmiah tentang kebahasaan.
6. Guru harus meningkatkan jenjang pendidikan, baik formal maupun nonformal.
7. Guru harus menyadari bahwa ia menghadapi si terdidik yang penuh kretivitas dan yang potensi bahasanya harus dikembangkan.
Untuk kesulitan yang berasal dari si terdidik dapat diusahakan:
1. Motivasi si terdidik harus dibangkitkan untuk memperbaiki kesalahan sendiri.
2. Si terdidik harus berlatih terus menerus.
3. Guru tidak memvonis kesalahan si terdidik, tetapi menunjukan bahwa kealahan hanya disebabkan oleh belum tahunya si terdidik terhadap kesalahan yang dibuatnya.
4. Guru harus terbuka dan bersedia berkonsultasi yang diadakan si terdidik karena menanyakan persoalan kebahasaan yang ditemukan siterdidik.

8. Kesalahan perorangan, ‘errors of individuals’, jelas menggambarkan yang dibuat oleh seseorang dan diantara kawan-kawannya sekelas. Kalau kita mengajar, pelajaran yang kita berikan tentunya ditunjukan untuk sekelompok terdidik yang terdapat dalam sebuah kelas namun yang belajar sesungguhnya individu-individu itu sendiri. misalnya, semuanya menulis huruf kapital diawal kalimat dan hanya seorang yang tidak. Kesalahan seperti ini disebut kesalahan perorangan. Memperbaiki kesalahan perorangan tentu bersifat perorangan pula.

9. Mempelajari kesalahan kelompok, ‘errors of group’, hanya berarti apabila kelompok itu homogen, misalnya menggunakan bahasa ibu yang sama dan semuanya mempunyai latar belakang yang sama, baik intelektual maupun sosial. Murid yang menggunakan bahasa yang berbeda-beda, kesalahannya lebih banyak daripada murid-murid yang homogen. Guru yang menyuruh si terdidik berbicara, membaca atau menulis pasti akan menemukan kesalahan. Kesalahan itu, ada yang berulang-ulang dibuat oleh kelompok. Kesalahan seperti itu, disebut kesalahan kelompok.

10. Kesalahan menganalogi, ‘errors of overgeneralisation or analogycal errors’ adalah sejenis kesalahan pada si terdidik yang menguasasi suatu bentuk bahasa yang dipelajari lalu menerapkannya dalam konteks, padahal bentuk itu tidak dapat diterapkan. Si terdidik melakukan proses pemukul rataan, tetapi proses pemukulrataan yang berlebihan. Si terdidik menggunakan kata atau kalimat yang berpola pada kata atau kalimat yang didengarnya padahal bentuk itu tidak dapat diterapkan. Kesalahan dengan jalan menganggap kata anggota, sentosa, teladan berubah menjadi anggauta, sentausa, tauladan, termasuk kesalahan menganalogi.

11. Kesalahan transfer, ‘transfer errors’ terjadi apabila kebiasaan-kebiasaan pada bahasa pertama diterapkan pada bahasa yang dipelajari. Misalnya, dalam bahasa Indonesia tidak mempunyai bunyi /Ѳ/ seperti dalam kata inggris “Thank, think”. Orang Indonesia sering menggantikan bunyi tadi dengan /t/ atau /s/. Proses penggantian semacam ini yang disebut transfer (Pateda, 1989:45). Corder (dalam Allen dan Corder. Ed. 1974:130) berkata:

“this observation has led to the widely accepted theory of transfer which states that a learner of a second language transfers into his performance in the second language the habits of his mother-tounge”.

12. Kesalahan guru sebenarnya berhubungan dengan teknik dan metode pengajaran yang dilakukan guru di dalam kelas. Kesalahan guru, ‘teaching-induced’ adalah kesalahan yang dibuat si terdidik karena metode atau bahan yang diajarkan salah. Misalnya, dalam bahasa Indonesia terdapat sisipan –el- dan –er-. Guru yang kurang hati-hati mengatakan, sisipan –el- dan –er- dapat di letakan pada beberapa kata yang dikiranya mungkin. Itu sebabnya ia berkata, sisipan –el- terdapat pada kata belebas dan gelas, sisipan –er- terdapat pada kata beras, dan sisipan –em- terdapat pada pemakai.

13. Kesalahan lokal, ‘local errors’ adalah kesalahan yang tidak menghambat komunikasi yang pesannya diungkapkan dalam sebuah kalimat. Menurut Valdman (1975) yang dikutip oleh Ruru dan Ruru (1985:2), kesalahan lokal adalah suatu kesalahan lungistis, ‘linguistic errors’ yang menyebabkan suatu bentuk ‘form’ atau struktur dalam sebuah kalimat tampak canggung, tetapi bagi seorang penutur yang mahir bahasa asing hampir tidak ada kesulitan untuk mengerti apa yang dimaksud dalam kalimat itu.

14. Di dalam bidang makna, disinggung pula apa yang disebut makna acuan (Pateda, 1986). Dalam kaitannya dengan jenis kesalahan, terdapat pula istilah kesalahan acuan ‘referential errors’. Corder (dalam Allen dan Corder, Ed. 1974:123) mengatakan:

“... where the speaker uses a term with the intention of refering to some feature of the world to which it is conventionally inaplicalbe”. Kesalahan acuan banyak dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Pada kesempatan tertentu kita meminta ini, yang dibawa itu, kita meminta dibelikan celana panjang yang dibeli celana pendek. Singkatnya, kesalahan acuan berkaitan dengan realisasi benda, proses, atau peristiwa yang tidak sesuai dengan acuan yang dikehendaki pembicara atau penulis. Untuk menghindari kesalahan acuan tidak terjadi, sebaiknya pesan yang kita sampaikan harus jelas dan tidak menimbulkan berbagai tafsiran. Misalnya, kalau kita mengatakan kursi kuliah akan berbeda realisasinya kalau kita hanya mengatakan kursi, karena kata kursi bersifat umum. Dapat kita katakan, makin khusus yang dikatakan makin jelas pesan yang disampaikan dan makin kecil kesalahan yang dibuat si pendengar.

15. Kesalahan register berhubungan dengan variasi bahasa yang berkaitan dengan pekerjaan seseorang. Dengan demikian kesalahan register, register error adalah kesalahan yang berhubungan dengan bidang pekerjaan seseorang. Dalam bahasa Indonesia terdapat kata operasi. Bagi seorang dokter, kata operasi selalu dihubungkan dengan usaha menyelamatkan nyawa seseorang dengan jalan membedah tubuh atau bagian tubuh. Misalnya, kita dengar dari kalimat dokter yang berbunyi “operasi usus buntu anak Bapak, insyallah akan dilaksanakan besok”, terdengar pula kalimat, “operasi jantung Pak Koko berjalan lancar ”. bagi seorang petugas pemerintahan, kata operasi biasanya dihubungkan dengan pemungutan pajak, penertiban keamanan, ajakan membersihkan selokan, sehingga muncul kalimat “operasi IPEDA akan dilaksanakan hari Jumat”. Adapula kalimat, “operasi pembersihan sampah berhasil dengan baik karena ada partisipasi para pegawai”. Bagi seorang militer, kata operasi selalu dikaitkan dengan usaha penumpasan musuh sehingga munculah kalimat, “operasi kami kelambung pertahanan musuh berhasil baik”.

16. Manusia adalah makhluk sosial. Ia tidak mungkin hidup sendiri dalam kenyataan seperti itu, ia harus berkomunikasi dengan orang lain. Dalam sosial linguistik dikenal variasi bahasa yang dikaitkan dengan latar belakang sosialpembicara dan pendengar. Yang dimaksud dengan latar belakang sosial disini, misalnya yang berhubungan dengan jenis kelamin, pendidikan, umur, tempat tinggal, dan jabatan. Latar belakang sosial ini mengharuskan kita untuk pandai-pandai memilih kata kalimat yang sesuai dengan latar belakang orang yang diajak bicara. Kesalahan memilih kata yang dikaitkan dengan status sosial dengan orang yang diajak berbicara menimbulkan kesalahan yang disebut kesalahan sosial, ‘social errors’ (Pateda, 1989:41).

17. Kesalahan tekstual, ‘textual errors’ muncul sebagai akibat salah menafsirkan pesan yang tersirat dalam kalimat atau wacana. (Pateda, 1989:42). Jelas disini bahwa kesalahan tekstual mengacu pada jenis kesalahan yang disebabkan oleh tafsiran yang keliru terhadap kalimat atau wacana yang kita dengar atau yang kita baca. Misalnya kalimat “anak dokter Ahmad Ali sakit” memperlihatkan berbagai kemungkinan tafsiran. Seandainya yang dimaksud ada dua orang yang sakit dan orang lain berpendapat bahwa ada empat orang yang sakit maka tafsiran orang lain itu dapat digolongkan ke dalam kesalahan tekstual.

18. Kesalahan penerimaan, ‘receptive errors’, biasanya berhubungan dengan keterampilan menyimak atau membaca. Dihubungkan dengan menyimak kesalahan penerimaan disebabkan oleh, (1) pendengar yang kurang memperhatikan pesan yang disampaikan oleh pembicara, (2) alat dengar pendengar, (3) suasana hati pendengar, (4) lingkungan pendengar, misalnya kebisingan, (5) ujaran yang disampaikan tidak jelas, (6) kata atau kalimat yang di gunakan pembicara menggunakan makna ganda, (7) antara pembicara dan pendengar tidak saling mengerti, dan (8) terlalu banyak opesan yang disampaikan sehingga sulit diingat oleh si pendengar.

19. Kesalahan pengungkapan, ‘expressive errors’, berkaitan dengan pembicara. Pembicara atau penulis salah mengungkapkan atau menyampaikan apa yang dipikirkannya, dirasakannya, atau yang diinginkannya. Misalnya petugas bandar udara mengungkapkan fifteen, padahal yang dimaksud fifty. Akibat salah pengungkapan itu pilot segera menukikkan pesawat nya dan tentu saja kecelakaan tidak dapat dihindari.