Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

15 Soal (Essay) Sintaksis Bahasa Indonesia Beserta Jawaban

Kumpulan Soal (Esai/Uraian) Materi Sintaksis Bahasa Indonesia

1. Kalimat majemuk setara terdiri atas tiga macam. Sebutkan dan berikan contoh-contohnya!

2. Apa yang dimaksud dengan kalimat efektif? Beserta satu contoh!

3. Jelaskan tentang frasa!

4. Tuliskan ciri-ciri frasa!

5. Uraikan jenis-jenis frasa!

6. Buatlah lima buah contoh klausa verbal yang intransitif!

7. Buatlah lima buah contoh klausa verbal yang transitif!

8. Hubungan antar klausa berdasarkan waktu terbagi menjadi 4 jenis. Sebutkan dan beri 2 contoh!

9. Tuliskan unsur-unsur kalimat berdasarkan fungsi. Beri contoh!

10. Tuliskan pembagian kalimat berdasarkan bentuknya. Beri contoh!

11. Apa yang dimaksud dengan sintaksis!

12. Apa perbedaan frase dengan kata majemuk? Berikan 3 contoh masing-masing.

13. Jelaskan perbedaan frasa endosentris dan frasa eksosentris. Berikan masing-masing 3 contoh!

14. Jelaskan frasa endosentris terbagi atas frase endosentris koordinatif dan frase endosentris apositif. Berikan masing-masing 3 contoh!

15. Jelaskan Klausa dapat dibagi menjadi klausa bebas dan klausa terikat. Beri 3 contoh masing-masing!

Jawaban:

1. Macam-macam kalimat majemuk setara.
- Kalimat setara sejajar atau menggabungkan.
Contoh : Ia menanam bunga dan rajin menyiraminya.
- Kalimat setara berlawanan atau mempertentangkan.
Contoh : Andi tidak menulis surat, tetapi hanya menggambar saja.
- Kalimat setara sebab-akibat.
Contoh : Penduduk Kota Yogyakarta panik karena ada gempa bumi.

2. Kalimat efektif
Kalimat efektif adalah kalimat yang secara tepat dapat mewakili gagasan atau perasaan pembicara atau penulis dan sanggup menimbulkan gagasan yang sama tepatnya di dalam pikiran pendengar atau pembaca seperti yang dipikirkan oleh pembicara atau penulis.
Kalimat afektif harus memiliki :
– Syarat Keparalelan
Yang dimaksud keparalelan adalah kesamaan bentuk kata yang digunakan dalam kalimat itu. Artinya, kalau bentuk pertama menggunakan kata benda (nomina), bentuk kedua dan seterusnya juga harus menggunakan kata benda (nomina). Kalau bentuk pertama menggunakan kata kerja (verba), bentuk kedua dan seterusnya juga menggunakan kata kerja (verba).
Contoh:
Apabila pelaksanaan pembangunan lima tahun kita jadikan titik tolak, maka menonjollah beberapa masalah pokok yang minta perhatian dan pemecahan. Reorganisasi administrasi departemen-departemen. Ini yang pertama. Masalah pokok yang lain yang menonjol ialah penghentian pemborosan dan penyelewengan. Ketiga karena masalah pembangunan ekonomi yang kita jadikan titik tolak, maka kita ingin juga mengemukakan faktor lain. Yaitu bagaimana memobilisir potensi nasioal secara maksimal dalam pembangunan ini.
– Syarat Kehematan
Yang dimaksud kehematan dalam kalimat efektif ialah hemat menggunakan kata, frasa, atau bentuk lain yang dianggap tidak perlu. Kehematan tidak berarti harus menghilangkan kata-kata yang dapat menambah kejelasan kalimat. Penghematan di sini mempunyai arti penghematan terhadap kata yang memang tidak diperlukan, sejauh tidak menyalahi kaidah tata bahasa.
Contoh: Lukisan itu indah. Lukisan itu akan saya beli.
– Syarat Kesepadanan
Yang dimaksud kesepadanan ialah keseimbangan antara pikiran (gagasan) dan struktur bahasa yang dipakai. Kesepadanan kalimat ini diperlihatkan oleh kesatuan gagasan yang kompak dan kepaduan pikiran yang baik.
Contoh:
– Syarat Kelogisan
Yang dimaksud dengan kelogisan ialah ide kalimat itu dapat diterima oleh akal dan sesuai dengan kaidah yang berlaku. Kelogisan berhubungan dengan penalaran, yaitu proses berpikir untuk menghubung-hubungkan fakta yang ada sehin gga sampai pada suatu simpulan. Dengan perkataan lain, penalaran (reasoning) ialah proses mengambil simpulan (conclicusion, interference) dan bahan bukti atau petunjuk (evidence) ataupun yang dianggap bahan bukti atau petunjuk (Moeliono, 1988: 124-125)
Contoh:
Mayat wanita yang di temukan itu sebelumnya sering mondar-mandir di daerah tersebut.

3. Frasa atau frase adalah sebuah makna linguistik. Lebih tepatnya, frasa merupakan satuan linguistik yang lebih besar dari kata dan lebih kecil dari klausa dan kalimat. Frasa adalah kumpulan kata nonpredikatif. Artinya frasa tidak memiliki predikat dalam strukturnya. Itu yang membedakan frasa dari klausa dan kalimat

4. Frasa memiliki beberapa ciri yang dapat diketahui, yaitu :
1. Terbentuk atas dua kata atau lebih dalam pembentukannya.
2. Menduduki fungsi gramatikal dalam kalimat.
3. Mengandung satu kesatuan makna gramatikal.
4. Bersifat non-predikatif.

5.
1. Frasa berdasarkan jenis/kelas kata
Frasa Nomina
Frasa Nomina adalah kelompok kata benda yang dibentuk dengan memperluas sebuah kata benda. Frasa nominal dapat dibedakan lagi menjadi 3 jenis yaitu :
1. Frasa Nomina Modifikatif (mewatasi), misal : rumah mungil, hari senin, buku dua buah, bulan pertama, dll.
2. Frasa Nomina Koordinatif (tidak saling menerangkan), misal : hak dan kewajiban, sandang pangan, ', lahir bathin, dll.
3. Frasa Nomina Apositif
Contoh frasa nominal apositif :
a). Jakarta, Ibukota Negara Indonesia, sudah berumur 485 tahun.
b). Melati, jenis tanaman perdu, sudah menjadi simbol bangsa Indonesia sejak lama.
Frasa Verbal
Frasa Verbal adalah kelompok kata yang terbentuk dari kata kata kerja. Kelompok kata ini terbagi menjadi 3 macam, yaitu :
1. Frasa Verbal Modifikatif (pewatas), terdiri atas pewatas belakang, misal : a). Ia bekerja keras sepanjang hari. b). Kami membaca buku itu sekali lagi. Pewatas depan, misal : a). Kami yakin mendapatkan pekerjaan itu. b). Mereka pasti membuat karya yang lebih baik lagi pada tahun mendatang.
2. Frasa Verbal Koordinatif adalah 2 verba yang digabungkan menjadi satu dengan adanya penambahan kata hubung 'dan' atau 'atau', Contoh kalimat : a). Orang itu merusak dan menghancurkan tempat tinggalnya sendiri. b). Kita pergi ke toko buku atau ke perpustakaan.
3. Frasa Verbal Apositif yaitu sebagai keterangan yang ditambahkan atau diselipkan. Contoh kalimat : a). Pekerjaan Orang itu, berdagang kain, kini semakin maju. b). jorong, tempat tinggalku dulu, kini menjadi daerah pertambangan batubara.
Frasa Ajektifa
Frasa ajektifa ialah kelompok kata yang dibentuk oleh kata sifat atau keadaan sebagai inti (diterangkan) dengan menambahkan kata lain yang berfungsi menerangkan, seperti : agak, dapat, harus, lebih, paling dan 'sangat. Kelompok kata ini terdiri dari 3 jenis, yaitu :
1. Frasa Adjektifa Modifikatif (membatasi), misal : cantik sekali, indah nian, hebat benar, dll.
2. Frasa Adjektifa Koordinatif (menggabungkan), misal : tegap kekar, aman tentram, makmur dan sejahtera, dll
3. Frasa Adjektifa Apositif, misal :
a). Srikandi cantik, ayu menawan, diperistri oleh Arjuna.
b). Desa Jorong, tempat tinggalku dulu, kini menjadi daerah pertambangan batubara.
Frasa Apositif bersifat memberikan keterangan tambahan. Frasa Srikandi cantik dan Desa Jorong merupakan unsur utama kalimat, sedangkan frasa ayu menawan, dan tempat tinggalku dulu, merupakan keterangan tambahan.
Frasa Adverbial
Frasa Adverbial ialah kelompok kata yang dibentuk dengan keterangan kata sifat. Frasa ini bersifat modifikasi (mewatasi), misal : sangat baik kata baik merupakan inti dan kata sangat merupakan pewatas. Frasa yang bersifat modifikasi ini contohnya ialah agak besar, kurang pandai, hampir baik, begitu kuat, pandai sekali, lebih kuat, dengan bangga, dengan gelisah. Frasa Adverbial yang bersifat koordinatif (yang tidak menerangkan), contoh frasanya ialah lebih kurang kata lebih tidak menerangkan kurang dan kurang tidak menerangkan lebih.
Frasa Pronominal
Frasa Pronominal ialah frasa yang dibentuk dengan kata ganti, frasa ini terdiri atas 3 jenis yaitu :
1. Modifikatif, misal kalian semua, anda semua, mereka semua, mereka itu, mereka berdua.
2. Koordinatif, misal engkau dan aku, kami dan mereka, saya dan dia.
3. Apositif, misal :
a). Kami, putra-putri Indonesia, menyatakan perang melawan narkotika.
Frasa Numeralia
Frasa Numeralia ialah kelompok kata yang dibentuk dengan kata bilangan. Frasa ini terdiri atas :
1. Modifikatif, contoh : a). Mereka memotong dua puluh ekor sapi kurban. b). Kami membeli setengah lusin buku tulis.
2. Koordinatif, contoh : a). Entah dua atau tiga sapi yang telah dikurbankan. b). Dua atau tiga orang telah menyetujui kesepakatan itu.
Frasa Interogativ Koordinatif ialah frasa yang berintikan pada kata tanya. contoh : a). Jawaban dari apa atau siapa ciri dari subjek kalimat. b). Jawaban dari mengapa atau bagaimana merupakan pertanda dari jawaban predikat.
Frasa Demonstrativ Koordinatif ialah frasa yang dibentuk oleh dua kata yang tidak saling menerangkan. contoh : a). Saya tinggal di sana atau di sini sama saja. b). Kami pergi kemari atau kesana tidak ada masalah.
Frasa Preposisional Koordinatif ialah frasa yang dibentuk oleh kata depan yang tidak saling menerangkan. contoh : a). Petualangan kami dari dan ke Jawa memerlukan waktu satu bulan. b). Perpustakaan ini dari, oleh, dan untuk masyarakat umum.

6. Contoh klausa verba yang intrasitif
1. Nenek menangis
2. Adik melompat-lompat
3. Rio berlari
4. Lina memanjat
5. Dia bersiap-siap

7. Contoh klausa verba yang transitif
1. Nenek menulis surat
2. Kakek membaca buku silat
3. Melly menyanyikan sebuah lagu
4. Siti membuat kue
5. Ibu mengambil buah di pohon

8. Hubungan natar klausa berdasarkan waktu terbagi menjadi 4 jenis.
1. Waktu batas permulaan
Waktu batas permulaan ditandai oleh kata penghubung sejak atau sedari, seperti
a. Sejak kecil saya memang sudah menulis apa-apa yang saya alami dalam hidup sehari.
b. Kamu terbiasa hidup sederhana sedari kami masih baru saja menikah.
2. Waktu bersama
Waktu bersamaan ditandai oleh kata penghubung ketika, pada waktu, (se) waktu, seraya, serta, sampai, sementara, selagi, selama, dan tatkala. Seperti,
a. Mereka datang ketika kami sedang duduk-duduk di teras rumah sore hari.
b. Untunglah kebakaran itu terjadi sewaktu turun hujan yang sangat lebat.
3. Waktu berurutan
Waktu berurutan ditandai oleh kata penghubung sebelum, sehabis, setelah, sesudah, seusai dan begitu. Seperti
a. Sesudah pulang sekolah, dia membantu orang tuanya bekerja di lading.
b. Sebelum tamat belajar, saya pun ingin pulang untuk turut membangun desa.
4. Waktu batas akhir
Waktu batas akhir digunakan untuk menyatakan akhir atau ujung suatu proses. Waktu batas akhir ditandai oleh kata penghubung sampai dan kepada.
a. Aku harus belajar dan berjuang keras sampai cita-citaku tercapai.
b. Kita harus mempertahankan negeri ini hingga akhir zaman.

9. Unsur-unsur kalimat berdasarkan fungsi.
Fungsi Subjek
Contoh:
1) Jalanya, Akhir –nya di sini mengatakan kata benda, meskipun kata benda itu menyatakan suatu kerja.
2) Berperang, Artinya hal perang, dianggap sebagai kata benda.
Fungsi Predikat
Contoh:
1) Penunjuk aspek : sudah, sedang, akan, yang selalu ada didepan predikat.
2) Kata kerja bantu : boleh, harus, dapat.
3) Kata petunjuk modal : mungkin, seharusnya, jangan–jangan.
4) Beberapa ketengan lain : tidak, bukan, justru, memang, yang terletak diantara S, dan P, dan
5) Kata kerja kopula : ialah, adalah, merupakan, menjadi. Biasanya kata ini digunakan merangkaikan predikat nomina dengan S-nya, khusus FB-FB (Frase Benda-Frase Benda).
Fungsi Objek
Contoh :
1) Pembantu membersihkan ruangan saya.
2) Ruangan saya dibersihkan oleh pembantu.
Fungsi Pelengkap
Contoh:
1) .(nothing)
2) .(nothing)
Fungsi Keterangan
Contoh :
1) Dia tidur dikamar depan
2) Mereka sedang belajar bahasa indonesia sekarang

10. Jenis kalimat berdasarkan bentuk
1. Kalimat deklaratif
Kalimat ini disebut juga dengan kalimat berita. Kalimat berita adalah kalimat yang isinya memberitahukan sesuatu. Umumnya mendorong orang untuk memberikan tanggapan.
a. Macam-macam kalimat berita :
- Kalimat berita kepastian
Contoh : Ani pasti datang ke acara perpisahan ini.
- Kalimat berita pengingkaran
Contoh : Saya tidak akan datang pada acara ulang tahunmu.
- Kalimat berita kesangsian
Contoh : Mereka mungkin akan tiba nanti malam.
- Kalimat berita bentuk lainnya
Contoh : Kami tidak tahu mengapa dia datang terlambat.
2. Kalimat imperatif
Kalimat ini disebut juga dengan kalimat perintah atau permintaan. Kalimat perintah adalah kalimat yang bertujuan memberikan perintah kepada orang lain untuk melakukan sesuatu. Biasanya diakhiri dengan tanda seru (!). Dalam bentuk lisan, kalimat perintah ditandai dengan intonasi tinggi.
a. Macam-macam kalimat perintah
- Kalimat perintah biasa, ditandai dengan partikel lah.
Contoh : tutuplah jendela itu !
- Kalimat larangan, ditandai dengan penggunaan kata jangan.
Contoh : Jangan merokok di tempat umum !
- Kalimat ajakan, ditandai dengan kata mohon, tolong, silahkan.
Contoh : Tolong temani nenekmu di rumah !
3. Kalimat interogatif
Kalimat ini disebut judga dengan kalimat tanya atau juga disebut kalimat yang berisi interogasi. Kalimat Tanya. Kalimat tanya adalah kalimat yang isinya menanyakan sesuatu atau seseorang sehingga diperoleh jawaban tentang suatu masalah. Biasanya diakhiri dengan tanda tanya (?). Secara lisan, kalimat tanya ditandai dengan intonasi yang rendah.
Contoh :
1) Apakah kamu sakit ?
2) Siapa yang membeli buku ini ?

11. Sintaksis adalah cabang ilmu bahasa (linguistik) yang mempelajari frasa, klausa, dan kalimat serta bagaimana unsur-unsur tersebut membangun suatu kalimat yang bermakna dalam tuturan

12.
a. Frasa adalah kumpulan kata nonpredikatif. Artinya frasa tidak memiliki predikat dalam strukturnya. Itu yang membedakan frasa dari klausa dan kalimat. Sedangkan,
Contoh: ayam hitam saya, rumah itu besar, dan pintar otak saya
b. Kata majemuk adalah gabungan dua buah morfem dasar atau lebih yang mengandung satu pengertian baru. Kata majemuk tidak menonjolkan arti tiap kata. tetapi gabungan kata itu secara bersama-sama membentuk suatu makna atau arti baru.
Contoh: Meja makan, sapu tangan, dan kapal terbang.

13. Frasa endosentris merupakan frase yang mempunyai distribusi yang sama dengan unsurnya, baik semua unsur-unsurnya maupun salah satu unsurnya (Ramlan, 1986:146). Sedangkan, frasa eksosentris ialah frasa yang tidak mempunyai distribusi yang sama dengan semua unsurnya (Ramlan, 1986:146).
Contoh :
Frasa Endosentris :
– Sejumlah mahasiswa di teras.
– Bola di tendang oleh si Udin.
– Buku sejarah itu baru terbit.
Frasa Eksosentris :
– Ia pergi ke Bandung bersama ayah.
– Ia pergi ke sekolah tanpa pamit kepada ayah.
– Ia bekerja sebagai guru.

14.
a. Frasa endosentris koordinatif
Menurut Oscar (1993), frasa endosentris koordinatif adalah frasa yang intinya mempunyai referensi yang berbeda-beda. Frase ini terdiri atas unsur-unsur yang setara dan kesetaraannya terlihat dari kemungkinan unsur-unsur tersebut itu dihubungkan oleh kata sambung dan atau atau.
Contoh :
Paman dan bibi sudah lama tidak megunjungi kami.
Kerbau, lembu, dan kambing adalah hewan piaraan.
Siapa yang harus pergi, saya atau Anda?
b. Frase endosentris apositif
Frasa endosenttris apositif merupakan frasa yang berinti dua dan kedua inti itu tidak mempunyai referen yang sama, sehingga kedua inti tersebut tidak dapat dihubungkan oleh konektor (Ba’dulu 2005:59).
Contoh :
Yogya, kota pelajar
Indonesia, tanah airku
Bapak Soeharto, Presiden RI

15.
a. Klausa bebas ialah klausa yang boleh berdiri dengan sendiri dan apabila diucapkan dengan intonasi yang sempurna, klausa bebas ini akan menjadi ayat yang lengkap.
Contoh :
Ahmad menari.
Dia lulus dalam ujian
Robert memenangkan kejuaraan.
b. Klausa terikat adalah klausa yang memiliki struktur yang tidak lengkap. Dengan kata lain, klausa jenis ini tidak memiliki subyek sekaligus predikat. Karena itu, klausa jenis ini selalu terikat dengan klausa yang lain dan tidak pernah bisa menjadi kalimat mayor.
Contoh:
Besok sore. (Jawaban untuk kalimat “Kapan kamu berangkat?”)
Ketika hujan turun, bukit itu longsor.
Ketika senja datang, langit pun mulai menghitam.