Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

252 Kata-Kata Senja untuk Update Status di Media Sosial

Kata-Kata Bijak, Motivasi, Mutiara Senja untuk Postingan 


1. Absurd sekali, kita. Cerita berjam-jam, lalu hilang kabar berhari-hari. Merindu diam-diam, hingga tidak lagi saling mencari.

2. Ada matahari terbit dan terbenam setiap hari, dan semuanya gratis. Jangan lewatkan begitu banyak dari mereka.

3. Ada titik dimana angin ialah penebus rindu-rindu para manusia yang sedang menikmati senja.

4. Ada yang tak tenggelam ketika senja datang, yakni rasa.

5. Akan ada orang yang sama berulang kali melawat ingatan kita di waktu yang sama. Terutama sekali waktu senja.

6. Akan ada orang yang sama berulang kali melawat ingatan kita di waktu yang sama. Terutama sekali waktu senja.

7. Akan tiba masanya di mana rindu tak lagi butuh temu, bukan pula termasuk hadirnya orang yang baru, namun hati yang telah beku; terlalu lama menunggu hadirnya dirimu

8. Aku banyak belajar banyak pada senja, Karena dia mengajarkanku arti sementara.

9. Aku belajar kesabaran dari mentari senja yang menunggu malam, untuk dapat memeluk rembulan.

10. Aku belum pergi, masih di antara senja dan gelap malam, meski hujan telah menghapus semua jejakmu, tapi doa-doaku tetap setabah karang, memayungi tiap-tiap langkahmu.

11. Aku hanya butuh lebih banyak matahari terbenam.

12. Aku hanya dapat menikmati kehangatan senja yang tak akan pernah untuk menikmati kehangatan pelukanmu.

13. Aku hanyalah kunang-kunang , dan kamu hanyalah senja. Dalam gelap kita berbagi. Dalam gelap kita abadi. Senja selalu menggiring keceriaan menuju kegelapan.

14. Aku hanyalah kunang-kunang dan engkau hanyalah senja. Saat gelap kita berbagi. Saat gelap kita abadi.

15. Aku hanyalah penikmat kehangatan senja yang tak akan bisa menikmati kehangatan pelukanmu.

16. Aku ingin kamu saja yang menemaniku membuka pagi hingga melepas senja, menenangkan malam dan membagi cerita.

17. Aku ingin kamu saja yang menemaniku membuka pagi hingga melepas senja, menenangkan malam dan membagi cerita.

18. Aku lelah sembunyi, lelah merindukanmu dalam sunyi. Tanganku jangan dijabat, baiknya digenggam saja. Tak cuma jadi sahabat, jadi kekasihmu juga.

19. Aku masih rindu. Namun senja tak ingin lama bertamu.

20. Aku melintasi kehidupan dan kala. Aku berlayar menembus senja. Kuberanikan diri menulis untuk mengabadikan momen hidup dalam lembaran kertas

21. Aku memuji langit dengan puisi. Lalu langit tersipu malu. Pipinya merah merona. Orang-orang menyebutnya senja.

22. Aku mencintaimu sebanyak hujan. Kau mencintaiku sesingkat senja. Seperti hujan, aku jatuh cinta berkali-kali. Seperti senja, kau jatuh cinta kemudian pergi.

23. Aku panggili kamu senja itu di padang savana, Kekasih... Kuteriakkan, agar namamu lebih luas dari kesepianku.

24. Aku punya rindu dipenghujung senja. Sering ku lantunkan melebihi merdunya sajak jatuh cinta, namun merunut tiap detik kejadian dan tingkah polah yang kau lakukan, sepertinya rindu cukup ku diamkan, tanpa sebuah pengharapan.

25. Aku suka waktu bersamamu, menunda-nunda senja, menikmati luruh yang melanda. Lalu saling berdoa: Tuhan, jikapun senja sudah tak ada, tetapkanlah kami dalam perasaan yang sama.

26. Banyak hal dalam hidup yang bisa menunggu, tapi matahari terbenam tidak.

27. Banyak hal dalam hidup yang bisa menunggu, tapi matahari terbenam tidak.

28. Beberapa penyair sibuk bersembunyi di balik senja, hujan, gemintang, ufuk, gunung, pantai, jingga, lembayung, kopi, renjana, juga berbagai kata romantis lainnya, untuk kemudian lupa pada fakta bahwa dunia sedang tidak baik-baik saja. Hingga akhirnya kata-kata hanyalah hiasan semata.

29. Beberapa penyair sibuk bersembunyi di balik senja, hujan, gemintang, ufuk, gunung, pantai, jingga, lembayung, kopi, renjana dan berbagai kata romantis lainnya, untuk kemudian lupa pada fakta bahwa dunia sedang tidak baik-baik saja. Hingga akhirnya kata-kata hanyalah hiasan semata.

30. Begitu sama seperti dirimu. Datang membawa kabar gembira, pergi membawa luka

31. Bermimpilah setinggi langit, jika kamu terjatuh berarti tidurmu kurang ke tengah.

32. Bersyukur untuk matahari terbenam.

33. Biar lelah, tapi dia tetap indah. Itu lah senja.

34. Bila dirimu adalah penggemar senja dan kopi, izinkan aku mencintaimu tanpa jeda dan tetapi.

35. Bukankah kita hanya sebatas senja dan daratan? Saling melihat tapi tak saling terikat, saling menatap namun tak saling menetap.

36. Cobalah jadi malam agar kau tahu rasanya rindu, dan jadilah senja sesekali agar kau tahu artinya menanti.

37. Dan senja membuat kita mengerti arti sebuah kata rela.

38. Dari senja aku belajar bahwa perpisahan tak selamannya tentang luka.

39. Dari senja aku belajar, setiap hal-hal indah yang terjadi harus melalui semua hal yang menyakitkan.

40. Dari senja kita belajar bahwa yang indah pasti akan hilang.

41. Dari senja ku belajar bahwa mengagumi tidak selamanya untuk dimiliki.

42. Demi matahari senja yang menggantung manis manja di cakrawala, demi kebaikan dan ketulusan yang telaten diberikan semesta, dan demi ragam nama-nama Tuhan baik yang akrab maupun asing di telinga kita, sesungguhnya, manusia, adalah mahkluk yang merugi. Kecuali, ia yang mau belajar pada masa silam, berbuat yang terbaik di masa sekarang, dan menyiapkan segala sesuatu di masa depan, dengan keyakinan paling yakin pada terwujudnya sebuah impian.

43. Dengan menyaksikan, aku menyadari bahwa ada cara yang sederhana untuk kita berbahagia

44. Denganmu, basa-basi terasa berisi.

45. Deretan cemara berselimut hangat guguran daun mengering, wangi aroma menggugah lamunan kala hening. di tepian senja dan kelip kunang-kunang, setampuk rindumu bak getah jerat yang tak mau lekang.

46. Di antara senja dan keheningan di tempat ini, mengingatmu menjadi kesibukan kecil yang membahagiakan.

47. Di antara senja dan keheningan tempat ini, mengingatmu menjadi kesibukan kecil yang membahagiakan.

48. Di bawah alismu hujan berteduh. Dalam merah matamu senja berlabuh.

49. Di bawah indahnya senja sejenak aku melamun dan berpikir tentang hari esok.

50. Di dalam dekapan sang senja, diriku mengharapkan sebuah asa, yang dapat membuat semesta yang fana menjadi semesta yang penuh warna.

51. Di tengah angin senja yang mendesak, aku merasakan kekuasaan waktu, yang tanpa pandang bulu mengubah segala-galanya.

52. Di ujung senja kupaparkan beribu cinta sementara cahaya, menyemai rindu tanpa kesudahan memetik sukma memekar doa-doa.

53. Di ujung senja yang sudah hampir hilang kali ini aku masih menanti sebuah kabar dan ku tak tahu harus berapa lama ku menunggu.

54. Dibanding senja aku lebih bahagia jika senyumanmu yang menghiasi soreku.

55. Enak atau tidaknya ucapan selamat malam dan selamat pagi itu tergantung siapa yang mengucapkan.

56. Engkau terkadang datang seperti jingga di kala senja, datang dengan keindahan berlalu menyisakan kegelapan.

57. Entah mana yang lebih indah, senja yang mulai memerah atau senyummu yang mulai merekah.

58. Gelisah, menampar tak basah pada senja yang bergeremis. Begitu keringkah ladang pertautan kita hingga tunas harapan enggan tumbuh lagi

59. Gelombang adzan mendayu meminang senja. Di sanalah, Tuhan melahirkan segala rindu.

60. Hadirmu bagaikan senja menenangkan, meski hanya sesaat

61. Hadirmu di sisiku layaknya senja yang datang sebentar namun sangat menenangkan.

62. Hampa itu seperti langkah tak berjejak, senja tak jingga, dan cinta tapi tak dianggap

63. Hampa itu seperti langkah tak berjejak, senja tak jingga, dan cinta tapi tak dianggap.

64. Hanya senja yang tau cara berpamitan dengan indah

65. Hargai setiap matahari terbenam.

66. Hari ini aku belajar dari senja bahwa yang indah dan memesona akan datang dan hilang pada waktunya.

67. Hujan dan gebetan itu mirip. Ada yang mengaku suka, tapi hanya memandangnya dari tempat duduk yang hangat, berkata-kata romantis tanpa pernah mau bersinggungan. Ada yang betulan suka, mengalahkan rasa tidak nyaman, langsung berinteraksi dengannya meski berisiko sakit.

68. Ingat, setia itu memang sulit, tapi lihatlah jingga. Selalu menggenapkan warnanya, demi senja di setiap harinya.

69. Jangan lupa bahwa senja yang indah butuh awan yang menghitam

70. Jangan lupa bahwa senja yang indah membutuhkan awan yang menghitam.

71. Jangan mengulangi kesalahan yang sama, karena masih banyak kesalahan kesalahan lain yang perlu dicoba.

72. Jangan merasa paling indah jika menikmati senja saja kamu masih belum mampu.

73. Jangan rindu berat, kamu nggak akan kuat. Biar aku saja yang merindukanmu sekalipun bertambah berat badanku.

74. Jatuh hati pada senja itu sekaligus patah hati, karena ia hadir namun sudah diatur untuk pergi. Kuharap kamu tidak begitu.

75. Jatuh hati tidak pernah bisa memilih. Tuhan memilihkan. Kita hanyalah korban. Kecewa adalah konsekuensi, bahagia adalah bonus.

76. Jauh adalah ketika kita duduk bersebelahan di bangku taman menatap senja, tapi hati kita di bangku yang berbeda

77. Jika kamu merindukan seseorang, tataplah matahari sore. Kirimkan pesan rindumu untuknya lewat senja

78. Jika matahari terbenam, tak satupun lilin bisa menggantikannya

79. Jika senja mengalah pada malam, aku di sini mengalah pada rindu

80. Jodoh tak akan ke mana-mana terlebih dahulu sebelum akhirnya menetap.

81. Kamu bagaikan senja di sore hari, indah sesaat kemudian menghilang.

82. Kamu seperti senja, terasa menyenangkan namun tak bertahan lama.

83. Kamu tahu, kenapa senja itu menyenangkan? Kadang ia merah merekah bahagia, kadang ia hitam gelap berduka. Tapi langit, selalu menerima senja apa adanya.

84. Karena kehidupan itu adalah putih, bersih tak berwana. Tinggal bagaimana dirimu menempatkan diri pada porsinya. Dengan sesuai porsi dirimu akan merasa bahwa kau sudah bahagia atas segalanya

85. Karena senja dan rindu itu sama. Sama halnya dengan dirimu. Harus menunggu untuk mengecup rindu.

86. Karena senja selalu menerima langit apa adanya.

87. Karena senja tak pernah memintamu menunggu

88. Kata-kata senja yang terangkai lewat warna jingga di ufuk barat, adalah isyarat di mana aku menantimu tak kunjung lelah

89. Kau adalah awan bagiku, begitu indah dan ingin selalu kusentuh. Sedangkan aku bagimu adalah senja, hanya sebatas ada dan menarik namun tak pernah bisa membuatmu melirik

90. Kau tahu apa yang kusuka dari senja? Datang atau perginya. Keduanya sama mempesona. Belajar merelakan keindahan di depan mata.

91. Kebersamaan kita, sama seperti dua cangkir teh di saat senja, hangat dan manis

92. Kedatangan senja yang menenggelamkan matahari mengajarkan pada kita bahwa segala sesuatu tak ada yang abadi.

93. Kenapa aku suka senja? Karena negeri ini kebanyakan pagi, kekurangan senja, kebanyakan gairah, kurang perenungan.

94. Kenapa banyak orang menyukai senja? Karena senja dengan jingganya begitu menggambarkan hati yang sedang ditumbuhi asmara. Atau bahkan begitu menggambarkan hati yang sedang ditumbuhi nestapa. Walau tidak datang sampai fajar, kehadirannya mampu menenangkan hati sesuai suasana.

95. Kenapa senja terdengar lebih romantis dari fajar? Karena perpisahan akan lebih mudah dikenang dari pada pertemuan.

96. Kenyataanya senja tetaplah senja. Dia tak punya rasa, dia memberi indah sesaat kepada penikmatnya, lalu pergi begitu saja.

97. Ketika hati sulit untuk ikhlas, seharusnya kita belajar dari Senja. Karena Senja tak pernah menyalahkan Awan Kelabu yang sering menutupi keindahan dirinya.

98. Ketika matahari mulai redup, sang awan pun dengan seksama jadi penguasa langit, terima kasih untuk hujan sore ini

99. Kita hanyalah setitik senja yang kadang indah lalu surut dengan bermuram durja, dunia bagi masa kecil kita hanyalah mainan fana yang terus membumbung, mengitari angkasa dan membuat kita terlena akan keindahannya.

100. Kita memang ditakdirkan untuk jauh raga oleh jarak. Tapi, kita juga ditakdirkan untuk melihat senja yang sama tanpa jarak.

101. Ku mencintai kau seperti senja. Dengan keindahannya, tanpa durasinya.

102. Kupetik pipinya yang ranum,kuminum dukanya yang belum: Kekasihku, senja dan sendu telah diawetkan dalam kristal matamu

103. Kutunggu dirimu di bawah ungunya langit senja.

104. Langit matahari terbenam berbicara tentang seribu warna.

105. Maka siluetkan tubuhmu berlatar senja, karena tak sanggup kulihat airmatamu, kekasih

106. Makanan, teman, matahari terbenam.

107. Malam membuatku ingin menulis rindu, bukan untuk kau baca. Karena rindu yang sesungguhnya telah kau tinggal di tepian senja.

108. Malam membuatku ingin menulis rindu, bukan untuk kau baca. Karena rindu yang sesungguhnya telah kau tinggal di tepian senja. Maaf. Kisah kita, sekarang sudah berbeda. Jadi jangan samakan dengan keadaan kita yang sekarang

109. Masih dalam senja yang sama, meskipun mulai gelap malam datang menjelang. Selamat berbuka puasa buat rindu yang disana. Walaupun rindu masih terdekap rasa tak kan hilang.

110. Matahari senja, sampai kapan aku akan bertemu lagi dengan warna menyedihkan ini?

111. Matahari tenggelam itu seperti masa kecil, dipandang dengan heran bukan hanya karena indah tapi karena ia datang sebentar

112. Matahari tenggelam mengajarkan kita untuk menghargai apapun yang matahari berikan kepada kita

113. Matahari terbenam adalah bukti bahwa akhir juga bisa indah

114. Matahari terbenam adalah bukti bahwa apa pun yang terjadi, setiap hari bisa berakhir dengan indah.

115. Matahari terbenam adalah ciuman berapi-api matahari ke malam.

116. Matahari terbenam begitu indah seolah-olah kita sedang melihat melalui gerbang surga.

117. Matahari terbit atau terbenam bisa bersinar dengan cemerlang dan membangkitkan semua gairah, semua kerinduan, di dalam jiwa yang melihatnya.

118. Matahari yang tenggelam akan mengajarkan pada kita, agar bisa menghargai apa yang diberikan matahari untuk kita.

119. Melewatkan sinar senja sama halnya membuang kesempatan nikmat batin yang tak ternilai.

120. Melukiskanmu saat senja. Memanggil namamu ke ujung dunia. Tiada yang lebih pilu. Tiada yang menjawabku. Selain hatiku dan ombak berderu.

121. Memang benar, senja ibarat sebuah rindu. Selalu ingin bertemu meskipun harus menunggu terlebih dahulu. Karena senja dan rindu itu sama. Sama halnya dengan dirimu. Harus menunggu untuk mengecup rindu

122. Memang benar, senja ibarat sebuah rindu. Selalu ingin bertemu meskipun harus menunggu terlebih dahulu.

123. Menikmati duka yang kini kau rasa adalah sebuah asa yang tak kunjung ada, sebab kelak mungkin ia akan menjelma menjadi sesuatu yang begitu bermakna

124. Menunggu senja mengajarkan kepadaku bahwa untuk mendapatkan sesuatu yang indah dan berharga melalui jalan yang terjal dan waktu yang lama.

125. Menyaksikan matahari terbenam berarti terhubung dengan Yang Ilahi.

126. Mulai mempertanyakan alam raya, galaksi, planet-planet dan eksistensi saya di muka bumi ketika pagi-pagi belum juga ingin buang air besar.

127. Mungkin hanya mereka yang bersyukur yang mampu menyeka air mata untuk melihat bintang.

128. Nikmat Allah mana yang kau dustakan disenja ini wahai saudara-saudaraku semua.

129. Pada akhirnya engkaupun tetap akan meleleh dalam senja, kekasih! Senja menjadikanmu siluet, agar kesedihanmu kalah dengan keindahannya.

130. Padahal langit menerima senja apa adanya. Namun senja, tinggalkan langit tanpa aba-aba.

131. Penantianku setulus senja menanti sang mentari terbenam di ufuk barat.

132. Pengagum senja, penyesap kopi, penikmat rindu, penimba ilmu, peninggi badan, pemanjat sutet, pembuka simontok, penyembah tutup botol.

133. Pergi untuk menghilang. Tapi tidak untuk senja, ia pergi untuk berjanji. Berjanji untuk kembali (lagi).

134. Persahabatan itu seumpama laut dan pasir, senantiasa bersama-sama menghadapi pecahan ombak, bersama-sama merasakan lelehan senja, dan saling melengkapi dari masa ke masa.

135. Planet kita adalah tempat yang menakjubkan. Apalagi saat senja.

136. Saat aku mengagumi keajaiban matahari terbenam atau keindahan bulan, jiwaku berkembang dalam penyembahan Sang Pencipta

137. Saat matahari terbenam selalu membawa awal yang baru.

138. Saat matahari terbenam, tidak ada lilin yang bisa menggantikannya.

139. Saat matahari terbenam, tinggalkan apa pun yang sedang kamu lakukan dan tontonlah.

140. Saat senja datang, Apakah Bumi yang pergi meninggalkan Atau Matahari yang mengucapkan selamat tinggal? Saat hujan turun, Apakah awan yang berlarian tak sabar Atau Bumi yang menyambut riang?

141. Saat senja menyapa, aku menyadari bahwa masih banyak hal indah yang Tuhan ciptakan selain Kamu.

142. Salah satu nikmat Allah yang sampai detik ini bisa kurasakan adalah masih bisa bernapas dan menghirup segarnya udara senja.

143. Salam senja dan Magrib. Doa kita kepada yang maha kuasa hanya taubat jawabannya, dosa kita kepada sesama berminta maaf penawarnya.

144. Sama seperti matahari, tidak pernah membenci senja. Mengucapkan selamat tinggal ketika waktunya sudah habis

145. Sama seperti matahari, tidak pernah membenci senja. Mengucapkan selamat tinggal ketika waktunya sudah habis.

146. Satu-satunya jenis matahari terbenam yang saya tidak suka adalah yang saya lewatkan.

147. Saya mencintai senja bukan karena seseorang yang saat ini sedang saya cintai. Tapi saya berani mencintai seseorang, setelah berkali-kali belajar mencintai kehilangan dari matahari yang terbenam.

148. Sayangnya karna dia lebih indah dari senja, menjadikannya seangkuh matahari.

149. Sebab senja lebih tau bagaimana cara permisi tanpa ada sedikit pun insan yang merasa tersakiti

150. Seindah apapun senja, ia selalu membawa kita pada kegelapan.

151. Sekalipun hanya sejenak, namun senja pergi meninggalkan rasa hidup ini amat teramat singkat. Titipkanlah asa.

152. Selama kau tak patah hati, senja akan selalu terlihat indah

153. Selepas senja, aku kembali menjadi manusia yang menutupi air mata dengan gelak tawa.

154. Selepas senja, aku kembali menjadi manusia, yang menutupi air mata dengan gelak tawa.

155. Semerbak rindu kuasai udara panas ini. Senja pun ikut berdebar menanti beritamu tentang perang dan cinta.

156. Semuanya menjadi lebih indah saat matahari terbenam.

157. Senja adalah bukti bahwa apapun yang terjadi, setiap hari dapat berakhir dengan indah.

158. Senja adalah salah satu hal dalam hidup yang tidak akan menunggu.

159. Senja adalah sebagian nikmat yang diberikan Tuhan untuk kehidupan.

160. Senja adalah wujud dirimu yang lain, paling bisa aku nikmati saat kau jauh.

161. Senja akan mengajarkanmu cara bersyukur menikmati apa yang Tuhan berikan.

162. Senja bagaikan masa kecil, ia dipandang heran bukan karena indah saja, namun juga karena datang sebentar

163. Senja dan Pagi selalu menghadirkan sensasi bahwa mimpi bukan hanya sekedar fiksi namun realisasi.

164. Senja datang dengan cara yang indah. Sama indahnya dengan cara Tuhan mempertemukan kita.

165. Senja dilahap malam gelap, Pujangga menabur rindu sebelum terlelap, Tunduk tersipu kala wajah Nyonya tersingkap, Berbisik senyap untuk sehembus harap.

166. Senja hanya sementara. Begitu pula dengan kehidupan, jangan terlena akan kenikmatan dunia yang sementara.

167. Senja hari ini masih muda, seperti cinta yang baru saja bersemi.

168. Senja itu seperti kita, singkat dan bahagia.

169. Senja itu setia. Dia tak perlu berjanji untuk kembali. Dia hanya butuh waktu untuk menepati. Karena dia tahu, meninggalkan bukan berarti mengusaikan segala harapan. Tapi meninggalkan hanya untuk menguji sebuah kesetiaan.

170. Senja itu spesial. Hanya datang pada waktu tertentu. Saat dia datang dia membawa keindahan.

171. Senja jatuh: Langit berubah menjadi cahaya cahaya, ungu kehitaman dikotori dengan bintang perak kecil.

172. Senja juga mengajarkan kita ikhlas, ketika harus pergi karena datang sang malam.

173. Senja lebih tau bagaimana cara mengungkapkan rindu tanpa diketahui oleh angin dan juga derai nafas yang menderu.

174. Senja masih menjadi warna favorit, dan pelangi adalah warna kedua.

175. Senja masih tak berparas bagiku, saat luka bergoresan di ulu. Laraku mengalir di hilir tak berhulu

176. Senja memang begitu indah, namun cahaya mentari tetap tak tergantikan, meski dengan lilin yang bersinar sangat terang sekali pun.

177. Senja mengajarkan akan perjuangan, awan gelap yang mengadang, senja tak pernah rapuh berdiri meski sendirian.

178. Senja mengajarkan bahwa menanti itu tidak mudah, berjuang pun juga sama susahnya. Apalagi harus berjuang menunggu seseorang dalam ketidakpastian.

179. Senja mengajarkan kita apapun yang telah berlalu pasti akan memiliki akhir yang indah.

180. Senja mengajarkan kita bahwa hidup tak selalu cemerlang dan bersinar

181. Senja mengajarkan kita bahwa keindahan tak harus datang lebih awal.

182. Senja mengajarkan kita bahwa sesuatu yang terlihat indah sebagian besar hanya bersifat sementara.

183. Senja mengajarkan kita untuk menghargai semua hal indah yang matahari berikan kepada kita.

184. Senja mengajarkan pada kita, bahwa kehidupan tak selalu berjalan dengan cemerlang dan bersinar.

185. Senja menjulurkan tirainya ke bawah, dan menghiasinya dengan bintang.

186. Senja pergi secara perlahan, karena ia tahu pergi secara tiba-tiba hanya menyakiti siapapun yang menikmatinya.

187. Senja pun mengajarkan kita hidup memberi makna, meski hadir hanya sejenak.

188. Senja selalu cantik kecuali saat kau patah hati.

189. Senja selalu mengajarkan kita untuk pulang, tak peduli betapa jauh kita terbang.

190. Senja selalu mengajarkan kita untuk pulang, tak peduli betapa jauh kita terbang. Senja juga mengajarkan kita ikhlas, ketika harus pergi karena datang sang malam. Senja pun mengajarkan kita hidup memberi makna, meski hadir hanya sejenak.

191. Senja selalu seperti ini. Perlahan datang, lalu tiba-tiba hilang. Tergantikan keremangan malam, menyisakan kehampaan

192. Senja tak beda dengan nadir. Ialah waktu saat sang musafir melewati takdir.

193. Senja tak pernah membenci awan kelabu yang sering menutupinya.

194. Senja tak pernah menolak langit saat sore telah tiba, meski ia berubah menjadi kelabu.

195. Senja tak pernah menolak langit saat sore telah tiba, meskipun ia berubah menjadi kelabu.

196. Senja tak pernah salah. Hanya kenanganlah yang kadang membuatnya basah. Dan pada senja, akhirnya kita mengaku kalah

197. Senja tak terbenam sempurna, ada hujan yang ikut menghantar kita bertemu malam.

198. Senja tau bagaimana ia pamitan dengan cara yang berkesan.

199. Senja telah mengajarkan ku apa arti dari mengikhlaskan.

200. Senja tenggelam, rindu kusimpan, tuk nanti kusampaikan pada Tuhan, saat malam memelukkan gulita di tiap doa yang kupinta

201. Senja terlalu buru-buru berlalu, padahal aku baru hendak mewarnai langit untukmu dengan warna-warna rinduku yang selalu biru.

202. Senja termasuk salah satu suguhan ternikmat yang disajikan.

203. Senja, ia datang membawa berita gembira namun pergi meninggalkan luka.

204. Senja, kadang ungu cantik, kadang jingga keren, kadang hitam kelabu, tapi langit selalu menerima senja apa adanya

205. Senja, perpaduan yang sungguh indah bagi alam semesta.

206. Senja, seperti masa kanak-kanak, dipandang dengan takjub bukan hanya karena indah, tetapi karena cepat berlalu.

207. Senja, seperti masa kanak-kanak, dipandang dengan takjub bukan hanya karena indah, tetapi karena cepat berlalu.

208. Senja. Kadang jingga merekah bahagia, kadang hitam gelap berduka.

209. Senja: Mengajarkan kita bahwa yang indah pasti akan tenggelam.

210. Senjaku mulai menepi ke peraduannya.

211. Senjaku, selalu bermakna. Apapun itu.

212. Seperti malam yang tak pernah iri akan siang. Seperti fajar yang tidak mengajak senja demo, kenapa mereka diberi durasi sedikit.

213. Seperti sebuah kesempatan, pemandangan senja sebenarnya bisa kita lihat dua kali dalam sehari

214. Seperti senja yang setia menanti matahari menepi. Seperti itulah aku menantimu kembali.

215. Sepertimana senja yang bertemu malam, seperti juga aku yang menunggu untuk terus mendampingi kamu.

216. Setelah rona jingga dari sang senja yang terlukis indah dalam atap alam raya. Aku juga suka dengan potret yang terhias oleh senyuman manismu, oleh paras bahagiamu.

217. Setiap anak berhak cari dan dapat orang yang saling mencinta. Bukan karena mereka mengejar umur senja orangtua.

218. Setiap hari ada senja, tapi tidak setiap senja adalah senja keemasan, dan setiap senja keemasan itu tidaklah selalu sama.

219. Setiap matahari terbenam adalah kesempatan untuk menyetel ulang.

220. Setiap matahari terbenam membawa janji akan fajar baru.

221. Setiap senja selalu menjanjikan kita awal yang baru

222. Sudah banyak senja yang ku lalui, namun belum pernah ku lewati senja yang membawamu kembali.

223. Sunset adalah musik pembuka malam.

224. Surau masjid dipenuhi si tua. Kerana sedar diri sedang meniti usia senja. Tapi... Si muda amat lupa. Bahwa maut tak kenal usia.

225. Tak apa jika langit biru tak melukiskan senja sore ini, bilamana asal kamu masih ada dibawah langit yang sama dengan tersenyum dan bahagia.

226. Tak perlu jadi senja untuk di kaguminya, tak perlu jadi bulan untuk menyinarinya. Tenang saja, walau hatinya bukan untukmu, ketahuilah senyumnya akan datang darimu.

227. Tak salah lagi aku selalu mengagumi senja. Senja cukup lapang untuk menampung gelap dan cahaya juga duka dan suka secara bersamaan.

228. Tanaman palsuku mati karena aku tidak berpura pura menyiramnya.

229. Tangannya menjadi pengganti tanganku untuk menuntunmu' Pundaknya menjadi pengganti pundakku untukmu bersandar. Biarlah gemercik gerimis, carik senja, secangkir teh, dan bait lagu menjadi penggantimu.

230. Tentangmu adalah jingga yang mewarnai cakrawala, merinduimu bak siluet awan berhias sinar temaram kala ia di goda senja. nanti kan kubawa Sore hari untukmu, bingkisan sederhana untuk senyummu yang paling kunantikan.

231. Terima kasih senja, kau telah menampakkan bahwa perpisahan tak semuanya menyakitkan. Dan kepergian tampak begitu indah tanpa kehangatan.

232. Terima kasih. Karena sudah kau pegang erat sukmaku di sana. Sampai bertemu lagi.

233. Terimakasih senja. Aku selalu belajar dari engkau, yang tenggelam karena alasan dan kembali karena penuh harapan.

234. Terkadang ingin kuistirahatkan rindu ini, terlalu banyak resah dan waktu yang tersita. bila tiba saatnya bersandarlah di pelukan berhias secangkir kopi hitam. kan kunikmati tiap detak jantungmu, ia pengganti nada penutup senja.

235. Terkadang senja mengingatkan pada rumah, pada orang-orang yang membuat hati kita rindu untuk pulang

236. Ternyata dia bukan senja, jingganya tak hangatkan luka. Dia hanyalah angin yang sekadar singgah kemudian pergi.

237. Ternyata dia bukan senja, semburat sinarnya tak hangatkan luka. Dia hanyalah angin yang sekedar singgah lalu pergi

238. Ternyata, bukan hanya senja yang dapat padam. Yaitu amarah, ketika pelukmu merengkuh semua peluh. Aku terasa seperti bayi kecil di dadamu

239. Tidak ada yang lebih baik dari pantai saat matahari terbenam.

240. Tidak ada yang lebih indah dari senja yang indah untuk mengakhiri hari yang sehat.

241. Tidak ada yang lebih musikal dari matahari terbenam.

242. Tuhan mengajarku banyak benda. tapi, satu benda yang tidak dapat aku terima. munkin kerana diri ini terlalu alpa dibuai oleh tangisan jiwa memandang senja.

243. Tuhan, bersama tenggelamnya matahari senja ini, redakanlah kekecewaan dan kemarahan di hati ini. Sabarkanlah aku. Aamiin.

244. Tuhan, bersama tenggelamnya matahari senja ini, redakanlah kekecewaan dan kemarahan di hati ini. Sabarkanlah aku. Aamiin.

245. Uang, berilah aku rumah yang murah saja, yang cukup nyaman buat berteduh senja-senjaku, yang jendelanya hijau menganga seperti jendela mataku.

246. Ujung senja membawa angin menari, menyisakan gundah ketika pagi menyepi.

247. Untuk luka yang terhapus senja, untuk duka yang makin meraja, yakinlah hati agar membaja, bisikan lembut dengan senyuman manja, Insyaallah bersama Allah semuanya akan baik-baik saja.

248. Walau senja tinggalkan keindahan dan pergi, ia selalu datang kembali di esok hari. Tak seperti kamu yang lebih indah dari senja tapi pergi entah kemana.

249. Walaupun aku bukan senja yang kau tunggu, aku adalah langit yang siap menemani hari-harimu.

250. Walaupun terkadang dia pergi untuk menghilang, tapi tidak untuk senja. Dia pergi untuk berjanji akan kembali lagi.

251. Yang aku percaya adalah keseimbangan, tak salah lagi aku selalu mengagumi senja. senja cukup lapang untuk menampung gelap dan cahaya juga duka dan suka secara bersamaan.